ANAK SULIT BELAJAR? JANGAN-JANGAN HIPERAKTIF

Banyak kasus Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) luput terdeteksi sejak dini. Anak hanya dianggap sebagai si biang masalah atau si pemalas yang bengal. Sampai-sampai gangguan itu terlambat ditangani.

Jika prestasi akademik anak tidak sesuai dengan tingkat inteligensinya, berarti ada yang salah. Umpamanya, dengan IQ (Intelligence Quotient) 120, nilai ulangannya selalu jeblok. Bukankah angka itu menunjukkan tingkat kecerdasan di atas rata-rata, sehingga seharusnya ia mampu mampu dengn mudah mengemban tugas belajar. “Kasus-kasus seperti inilah yang masuk dalam kategori kesulitan belajar,” ujar dr. Tjhin Wiguna, SpKJ, Psikiater dari Klinik Anakku.

Antara kesulitan belajar dan GPPH, lanjut Tjhin, ternyata terkait cukup erat, prevalensinya sekitar 3,7 sampai 4,2 persen. Gangguan yang juga dikenal dengan istilah ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder) ini merupakan suatu gangguan yang bersifat kronis yang mulai muncul pada masa kanak-kanak awal (early childhood) atau kurang dari 7 tahun. Sayangnya, penyebabnya hingga sekarang belum diketahui.

Hanya saja gangguan ini sering dikaitkan dengan struktur anatomi otak, faktor neurokimiawi otak maupun faktor genetik. Bahkan riset menunjukkan bahwa kontribusi faktor keturunan pada munculnya gangguan ini mencapai 40-50 persen. Bila salah satu anggota keluarga menderita GPPH, contohnya, kemungkinan ada anggota lain yang juga mengalami kondisi serupa.

GANGGUAN PERKEMBANGAN OTAK

Faktor risiko lain yang dicurigai sebagai penyebab GPPH adalah kelahiran prematur. Begitu juga ibu yang merokok maupun minum minuman beralkohol semasa hamil. Penelitian lain menguak fakta, anak laki-laki ternyata berpeluang lebih sering menderita GPPH ketimbang anak perempuan dengan perbandingan sekitar 4:1. “Ada anggapan janin laki-laki lebih rentan terkena gangguan perkembangan otak karena lebih sedikit memiliki hormon estrogen yang melindungi otak dibanding pada janin perempuan. Akan tetapi sekali lagi anggapan ini belum jelas terbukti,” ujar Tjhin.

Sayangnya, kasus GPPH sering lambat terdeteksi. Padahal, tegas Tjhin, makin dini diketahui dan ditangani, makin baik pengaruhnya. Setidaknya perilaku anak tidak menjadi-jadi. “Mereka sering bikin jengkel teman dan gurunya karena enggak bisa diam. Lama-kelamaan ia akan disingkirkan atau sering dijadikan kambing hitam. Dari sini bisa muncul rasa rendah diri. Tentu saja hal ini enggak bagus buat perkembangan anak,” ujar Tjhin. “Memang, permasalahan yang umumnya dihadapi anak dengan GPPH adalah kesulitan berinteraksi.”

Ironisnya, lanjut psikiater lulusan Fakultas Kedokteran UI ini, gejala GPPH sering disalah artikan orang tua sebagai kenakalan biasa. Apalagi bila ia seorang anak laki-laki. Mereka akan menganggap “kebandelannya” sebagai sesuatu yang lumrah. Tak heran laporan guru mengenai kebiasaannya mengganggu teman-teman di kelas atau bersikap destruktif dan susah konsentrasi pada pelajaran akan ditanggapi sambil lalu saja.

GAMBARAN KLINIS

Lebih lanjut Tjhin menginformasikan gejala khas GPPH ini, yaitu kesulitan memusatkan perhatian (inatensi), kesulitan mengendalikan impuls (impulsivitas), serta menunjukkan aktivitas berlebihan (hiperaktivitas), seperti yang dijabarkan secara rinci berikut ini.

* Kesulitan Memusatkan Perhatian

Menghindari, segan, atau sulit melaksanakan tugas yang membutuhkan ketekunan dan kesinambungan.
Sering menghilangkan benda-benda yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas atau kegiatan lain.
Sulit memusatkan dan mempertahankan perhatian saat melaksanakan tugas maupun kegiatan bermain. Dengan kata lain, perhatiannya mudah teralih.
Terkesan tidak mendengarkan lawan bicara ketika diajak berbicara langsung.

* Hiperaktivitas dan Impulsivitas

Selalu dalam keadaan “siap gerak” atau aktivitasnya seperti digerakkan oleh mesin yang senantiasa tiada henti.
Tidak bisa duduk diam.
Mudah terangsang dan impulsif.
Sulit dikendalikan.
Sering berbicara berlebihan.
Sering menimbulkan kegaduhan sewaktu melakukan kegiatan.

TERCIUM SEJAK BALITA

Dengan gambaran klinis tadi, tandas Tjhin, diharapkan orang tua bisa mewaspadai adanya GPPH sekaligus bisa membedakannya dengan masalah troublemaker biasa. Sayangnya, berdasarkan data yang ada, kebanyakan kasus GPPH baru dapat disadari saat anak berusia sekitar 6-9 tahun atau ketika mereka sudah bersekolah. Hal ini dikarenakan saat memasuki SD, yang bersangkutan mulai dituntut untuk mengikuti situasi belajar formal. Tentu saja disertai perilaku yang terkendali dan konsentrasi yang baik. Sementara tuntutan tersebut justru sulit dipenuhi oleh anak dengan GPPH.

Padahal, menurut Tjhin, GPPH sebenarnya sudah dapat tercium sejak usia balita bahkan batita. Memang, gejala sulit konsentrasi pada satu kegiatan hampir sama dengan rentang perhatian balita yang relatif amat pendek. Oleh karenanya, Tjhin menganjurkan orang tua untuk mengamati perkembangan lainnya, kalau-kalau padanya ditemukan keterlambatan. Di antaranya keterlambatan bicara.

Mayoritas anak dengan GPPH ternyata juga mengalami gangguan bicara lantaran mereka sulit merangkai suku kata menjadi suatu kalimat. Saat anak berusia 1-3 tahun, tanda-tanda kesulitan berkonsentrasi yang dibarengi keterlambatan bicara sudah bisa terlihat. Seharusnya orang tua menangkap sinyal GPPH tersebut.

Sayangnya, banyak orang tua menganggap keterlambatan bicara ini sebagai hal wajar, “Ahdulu ayahnya juga telat ngomong, kok!” Menurut Tjhin, boleh-boleh saja menunggu keterlambatan ini, asalkan dalam batasan waktu yang wajar. Untuk itulah, tandasnya, orang tua amat dianjurkan untuk paham tahapan perkembangan anak yang normal.

Selanjutnya, bila sudah disadari bahwa anaknya mengalami GPPH, orang tua harus tahu persis ke mana sebaiknya ia dibawa. “Banyak, lo, yang masih beranggapan bahwa psikiater hanya untuk menangani kasus gangguan-gangguan kejiawaan alias kegilaan. Padahal, penderita GPPH juga memerlukan bantuan psikiater,” ungkap Tjhin.

PERLU OBAT

Anak dengan GPPH biasanya akan diterapi secara komprehensif yang meliputi farmakoterapi, terapi perilaku, konseling, serta pelatihan guru maupun orang tua. Penatalaksanaan ini membutuhkan konsistensi dan kesabaran ekstra mengingat anak dengan GPPH memerlukan keteraturan dan kedisiplinan.

Anak dengan GPPH mengalami masalah dalam kontrol diri, padahal kontrol ini diperlukan agar anak mengenal keteraturan dan kedisiplinan demi mencapai keberhasilan. Contohnya, belajar di kelas bisa berhasil kalau ia dapat menekan dorongannya untuk mengobrol. Namun yang terjadi, jika ia ingin bicara di tengah keheningan kelas, ya, dia akan segera bicara.

“Memang, bisa dimengerti bahwa anak dengan GPPH bisa sangat menjengkelkan. Namun dalam menghadapinya, jangan sedikit-sedikit orang tua ngomel atau malah memukul. Kekerasan fisik sama sekali tak akan menyelesaikan masalah. Lagipula kalau orang tua sendiri sudah memojokkan anaknya, bagaimana jadinya si anak nanti?” ujar Tjhin.

Yang menyedihkan, lanjutnya, orang tua sering keberatan ketika tahu bahwa penderita GPPH haruslah mengonsumsi obat-obatan. Padahal seperti yang sudah diutarakan di atas, penatalaksanaannya memang harus seperti itu. Obat di sini berfungsi menciptakan kontrol diri. Barulah setelah mendapat farmakoterapi, ia menjalani terapi perilaku. Biasanya berupa behaviour consulting seperti reward dan punishment dalam melakukan suatu kegiatan. Misalnya, “Kamu harus bisa mengerjakan PR yang jumlahnya 20 soal dalam waktu sejam.”

Bila self control-nya sudah terbentuk, dosis obatnya akan dikurangi secara bertahap sampai akhirnya anak tidak memerlukan lagi. Data menunjukkan anak dengan GPPH akan membaik pada masa pubertas. “Jadi, enggak benar kalau obat harus dikonsumsi seumur hidup oleh penyandang GPPH.”

Tjhin pun menegaskan, dengan penatalaksanaan yang baik, setelah dewasa anak GPPH dapat hidup normal seperti layaknya orang lain. Sebaliknya, jika tidak terdeteksi dan ditangani, sekitar 35 persen penderita GPPH akan mengembangkan perilaku antisosial dan menjadi pecandu narkoba. Yang seperti ini tentu tidak diharapkan bukan?

Faras Handayani. Illustrator: Pugoeh

Sumber : http://www.tabloid-nakita.com/artikel.php3?edisi=05219&rubrik=sehat

About sayabisaberubah

Apa adanya aja... dan selalu berharap bisa menjadi lebih baik setiap harinya
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s