15 Juta Lebih Penduduk Indonesia Tuna Aksara

10-10-02

Denpasar, Kompas – Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 2000, ternyata jumlah penduduk Indonesia usia 10 tahun ke atas yang tuna aksara-tidak bisa membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia-mencapai 15.637.949 orang. Dari jumlah itu, 10.534.907 di antaranya atau sekitar 67 persen adalah perempuan.

Hasil SP Biro Pusat Statistik (BPS) itu menunjukkan pula bahwa dari total penyandang tuna aksara tersebut, 582.568 di antaranya berusia 10-19 tahun. “Usia ini adalah usia sekolah. Situasi tersebut jelas sangat memprihatinkan. Jadi, inilah yang sedang kami jadikan sasaran,” ujar Kepala Pusat Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Dendy Sugono, Rabu (9/10), usai pembukaan Bulan Bahasa dan Sastra 2002 di Denpasar.

Dendy mengatakan, Depdiknas sudah mengupayakan program untuk mengurangi dan mengentaskan penduduk tuna aksara Indonesia, di antaranya melalui kerja sama operasional antara Pusat Bahasa dengan pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten/kota.

Sejak Mei 2001 kerja sama sudah dilakukan dengan empat gubernur, yaitu Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Bali. Kerja sama serupa segera dijalin dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Bahasa daerah terdesak

Menanggapi keterdesakan bahasa daerah akibat pengajaran bahasa Indonesia, Dendy mengatakan, kedua bahasa itu seharusnya berkembang bersama dan selaras karena masing-masing memiliki ruang penggunaan. Bahkan, masyarakat diharapkan mampu berbahasa asing sebagai satu syarat menghadapi persaingan global dan pasar bebas.

“Pertahankan bahasa ibu, yaitu bahasa daerah, gunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, dan kuasai bahasa asing sebagai tuntutan pergaulan dunia. Dengan itu baru kita akan mampu berdiri sama tinggi dengan bangsa lain,” ujarnya. Menurut dia, masyarakat dwibahasawan (menguasai lebih dari satu bahasa) mampu menggunakan bahasa sesuai dengan konteksnya. “Di Bali, kita harus berani mempopulerkan bahasa Bali,” kata Dendy.

Kepala Balai Bahasa Denpasar Ida Bagus Darmasuta mengatakan, masalah bahasa berkaitan dengan sikap dan perilaku masyarakat serta interaksi dengan lingkungan. Semakin heterogen lingkungan sekitar, kemampuan berbahasa seseorang akan bertambah. “Semua punya tempat dan jalurnya masing-masing. Di rumah, seharusnya berbahasa Bali jika mereka keluarga Bali,” kata Darmasuta. (COK)

sumber : http://els.bappenas.go.id/upload/other/15%20Juta%20Lebih%20Penduduk%20Indonesia%20Tuna%20Aksara.htm

About sayabisaberubah

Apa adanya aja... dan selalu berharap bisa menjadi lebih baik setiap harinya
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s