80% Anak-anak Yang Terlahir Sekarang Adalah Indigo*

*data dari buku The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku (Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)

Tentang anak Indigo

Kata Indigo dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah “warna biru tua yang diperoleh dari tumbuhan nila atau tarum”. Anak Indigo istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang paranormal bernama Nancy Ann Tappe dalam bukunya yang berjudul Understanding your life through color. Disebut olehnya sebagai indigo karena warna yang ada di sekitar anak-anak itu adalah warna indigo atau warna biru tua, yang dimaksud dengan warna yang ada disekitar anak-anak itu adalah warna kehidupan atau lebih dikenal dengan warna Aura, cahaya yang dipancarkan oleh manusia. Ya, anak-anak Indigo adalah mereka yang hidup dengan warna aura yang berwarna biru tua (indigo).

Lalu apa bedanya mereka dengan anak-anak lain? Mungkin pertanyaan itu juga yang mengakibatkan banyaknya terjadi spekulasi tentang fenomena kemunculan anak-anak ajaib ini, secara kasar perbedaan mereka dari anak-anak yang lahir sebelumnya adalah mereka terlahir dengan seperangkat atribut psikologis yang berbeda dan belum pernah terdokumentasikan sebelumnya. Secara fisik anak indigo memang sama dengan anak-anak lainnya, tapi mereka memiliki batin yang tua (old soul), sehingga mereka sering kali menunjukan suatu jiwa orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan jiwa konservatif yang biasa muncul didalam anak seusianya pada umumnya. Ditambah mereka juga terkadang memiliki kemampuan intuisi yang sangat mengagumkan, dan yang lebih jelas adalah mereka biasanya memiliki IQ yang berada pada tingkat diatas rata-rata. Tak ada penemuan yang jelas yang dapat menentukan kapan tepatnya untuk pertama kali anak indigo terlahir, tapi sebagian ilmuwan berpendapat pada akhir tahun 1970-an merupakan tahun kelahiran mereka yang pertama. Jumlah mereka dari tahun-ke-tahun semakin banyak dan hingga kini sampai pada angka 80%. Pada awal kemunculannya para anak indigo lebih dianggap sebagai penderita suatu kelainan atau penyakit, mereka sering di cap sebagai pengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder = gangguan hiperaktif kekurangan perhatian) atau ADD (Attention Deficit Disorder = gangguan kekurangan perhatian) juga Autis, sehingga mereka sering diusahakan agar sembuh dari suatu penyakit yang sebenarnya bukan penyakit.

Lee carroll & Jan tobber dalam bukunya The Indigo Children mengemukakan 10 ciri umum dari anak Indigo, yaitu:
1. Mereka memasuki dunia dengan perasaan keningratan (dan sering kali bertindak seperti itu)
2. mereka memiliki perasaan “pantas berada di sini”, dan terkejut jika orang lain tidak berpandangan seperti itu
3. harga diri bukanlah persoalan besar. Mereka sering memberitahu orang tua mereka tentang “siapa diri mereka”
4. mereka memiliki kesulitan dengan otoritas absolut (otoritas tanpa penjelasan atau pilihan)
5. mereka benar-benar tidak akan melakukan hal-hal tertentu; sebagai contoh, menunggu di antrean sangat sulit bagi mereka.
6. mereka merasa frustasi dengan sistem yang berorientasi pada ritual dan tidak memerlukan pemikiran kreatif.
7. mereka sering melihat cara-cara yang lebih baik dalam melakukan segala sesuatu, baik di dalam rumah maupun di sekolah, yang membuat mereka tampak seperti “perusak sistem”, tidak patuh pada sistem apapun.
8. mereka tampak antisosial kecuali jika mereka bersama dengan orang-orang yang sejenis dengan mereka. Jika tidak ada orang lain yang memiliki kesadaran yang sama disekitar mereka, mereka sering berpaling kedalam diri, merasa seperti tidak ada orang lain yang memahami mereka. Sekolah sering kali menjadi luar biasa sulit bagi mereka secara sosial.
9. mereka tidak akan bereaksi terhadap disiplin “rasa bersalah”
10. mereka tidak malu memberitahu anda tentang apa yang mereka butuhkan.

Selama ini fenomena anak Indigo terlihat lebih menyita dunia spiritual yang berujung pada magis atau para-psikologi dalam setiap pembahasannya, memang sepertinya terlihat aneh dan cukup mengherankan karena hal ini adalah suatu bentuk dari evolusi manusia yang paling mutakhir. Tak disangka sebelumnya kalau bentuk dari evolusi itu akhirnya dapat dirasakan dengan jelas pada masa sekarang ini, jelas sekali banyak pihak yang terkaget-kaget dan juga ada yang menyangkal, namun tetap saja evolusi itu terjadi dan tidak dapat dibendung. Coba katakan jika ada anggapan kalau para Indigo adalah para anak setan yang harus dimusnahkan dan haruskah kita menghabiskan seluruh generasi yang baru itu dengan melakukan genocide atau pemusnahan massa? Atau mungkin juga ada anggapan kalau para indigo merupakan para malaikat yang terlahir sebagai manusia, yah kalau memang begitu adanya pasti akan tercipta suatu kehidupan yang sangat baik di masa yang akan datang. Ada juga yang melihat bahwa para anak indigo merupakan suatu reinkarnasi dari orang-orang terdahulu, bukan hanya dari jiwa orang yang telah meninggal dunia di bumi tapi juga dari jiwa makhluk yang lain dari dimensi lain, biarlah pandangan itu diyakini oleh mereka yang meyakini, yang jelas mereka (para indigo) akan segera menguasai seluruh muka bumi.

Penulis membuat makalah ini hanya untuk memberikan pandangannya dalam menanggapi fenomena kelahiran anak-anak baru ini, yang menurut keterangan 2 buah buku yang memang membahas tentang anak indigo [The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku ( Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)] menyimpulkan bahwa pada saat sekarang ini tingkat kelahiran 80% merupakan kelahiran dari anak-anak indigo. Jumlah ini memungkinkan bahwa seluruh manusia pada beberapa tahun yang akan datang akan di dominasi oleh para indigo. Sekali lagi dikatakan bahwa kemunculan mereka tidak dapat di hentikan sama sekali. Fenomena itu akan tidak menjadi sesuatu yang luar biasa karena memang telah menjadi suatu standar baru dalam manusia. Suatu generasi yang telah disiapkan untuk menghadapi masa depan dengan segala macam tantangannya, mereka terlahir melewati batas budaya, ras, agama, kelompok, etnis dan segala macam batasan yang diciptakan oleh manusia.

Kelahiran mereka di atas bumi Indonesia tidaklah sebegitu menggemparkan seperti di dunia barat (bahkan lebih dianggap “meng-ada-ada”). Walaupun banyak kalangan akademisi yang mengakui hal tersebut. Mungkin karena masyarakat indonesia yang masih tertutup matanya terhadap berbagai hal yang terjadi di dalam dunia ini, adanya keterbatasan akses untuk mendapatkan informasi oleh masyarakat masih saja menjadi masalah utama yang dialami oleh bangsa ini, belum lagi kendala bahasa dimana literatur tentang penelitian Anak Indigo kebanyakan ditulis dalam bahasa asing, ditambahkan dengan masyarakat yang bersikap tidak mau tahu telah “melengkapkan ketidak-tahuannya”. serta juga tingkat pendidikan masyarakatnya, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan tidak ter-urus, disebabkan oleh pihak penyelenggara negara yang masih memiliki begitu banyak problema yang lebih penting dari pada menangani masalah anak-anak baru ini, atau mungkin mereka tidak perduli tapi yang mungkin lebih tepat adalah mereka tidak mengerti.

Lupakan masalah negara, rakyat kecil hanya menjadi korban dalam hal itu. Mari kembali ke awal permasalahan yaitu anak-anak baru yang disebut dengan indigo ini. Penulis dalam hal makalah ini membatasi pembahasan kedalam bagaimana penanganan dan menyikapi atas kemunculan anak-anak baru ini, semoga makalah yang masih banyak kurang dan memerlukan banyak kritikan ini dapat berguna dalam pembahasan masalah anak-anak baru ini. Pihak yang ditujukan adalah pihak guru, orang tua dan lingkungan secara khusus dan dan masyarakat yang luas secara umum.

Permasalahan Anak Indigo

Anak yang “aneh”, mungkin kata itu yang sering terucap untuk menggambarkan seorang anak indigo. Sebagian ada yang mengatakan kalau para indigo memiliki kemampuan meramal masa depan yang akurat, sebagian ada yang melaporkan kalau para indigo dapat melihat makhluk-makhluk kasat mata, yang lain mengatakan anak-anak baru ini berasal dari dimensi yang berbeda, ada lagi yang bilang kalau mereka merupakan anak-anak surga, pernah terdengar juga kalau mereka merupakan cikal bakal Dajjal (penjahat yang muncul di akhir jaman). Notradamus seorang peramal asal eropa, dalam ramalannya mengatakan kalau bumi akan dikuasai oleh manusia berserban biru (sebagian orang kini mengartikan kalau itu adalah para indigo), ada yang membuktikan kalau para indigo terlahir dengan kemampuan ESP (extra-sensory perception) yang kuat, ada yang yakin mereka adalah reinkarnasi dari para orang hebat dimasa lalu, ada juga yang beranggapan kalau para indigo adalah anak-anak yang terlahir dengan misi messianic (misi penyelamatan dunia), di Indonesia berdasarkan stigma yang beredar di masyarakat ada yang percaya kalau anak-anak ini “ada yang nempel” (setan, jin, makhluk halus, genderuwo, mak lampir, leak, iblis, kuntilanak, sundal-bolong, Dll) sehingga sering di bawa ke ahli nujum atau ke orang yang dianggap kuat ilmu spritualnya untuk dihilangkan sesuatu yang nempel-nya itu. Dan itulah sebagian kecil dari sangkaan-sangkaan dan kenyataan yang terjadi pada para anak indigo, tapi bagi penulis yang paling masuk akal adalah mereka muncul sebagai bentuk dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Tuduhan yang paling populer adalah mereka merupakan anak-anak yang menderita suatu penyakit dan harus disembuhkan. Baik di Amerika yang merupakan negara pencetus konsep indigo, maupun di seluruh dunia, para indigo sering disebut sebagai penderita ADD atau ADHD, karena mereka cenderung menunjukan gejala tersebut, tapi harus diingat kalau tidak semua anak indigo menderita ADD atau ADHD, begitu pula sebaliknya, setiap penderita ADD atau ADHD belum tentu seorang indigo. Indigo disangka sebagai penyakit karena sebelumnya hal tersebut belum pernah di dokumentasikan oleh masyarakat, lalu pada diri mereka muncul suatu perilaku yang sangat lain dari perilaku yang biasa ditunjukan oleh para anak yang terlahir sebelumnya, sehingga karena memiliki perbedaan maka disebut sebagai suatu yang tidak normal, mengalami gangguan dan sakit. Banyak terjadi kasus yang merupakan salah diagnosis dan juga menghasilkan suatu cara penyembuhan berbahaya yang dilakukan terhadap sesuatu yang sebenarnya bukan penyakit, berusaha menghilangkan sesuatu yang bukan merupakan penyakit dan mungkin juga itu merupakan suatu perangkat yang penting dalam diri seorang anak dapat mengakibatkan suatu kerusakan yang cukup membahayakan pada anak tersebut, alih-alih menyembuhkan malah celaka yang didapatkan.

Kemampuan sangat istimewa memang banyak ditemukan di dalam diri anak indigo dan kemampuan itu terkadang menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka, sering juga kemampuan itu tidak muncul ketika akan digunakan dalam kesengajaan. Kemampuan intuisi yang sangat tinggi jelas mereka miliki banyak laporan yang menyebutkan bahwa mereka melihat dunia melalui suatu paradigma dan kaca mata yang baru. Dalam hal spiritualitas mereka sangat dalam, sehingga memiliki kemampuan intrapersonal yang berbeda, dan merupakan suatu tingkat kesadaran diri yang berbeda.

Pandangan yang mengaitkan para anak indigo dengan sesuatu yang bersifat irasional dan cenderung mistis di indonesia sudah menjadi suatu stigma yang berlaku, karena memang terkait dengan kebudayaan masyarakat Indonesia itu sendiri, sebagian besar masih memiliki kebudayaan mistis yang kental. Dalam kelahirannya di negeri Indonesia masih banyak juga yang tidak perduli dengan fenomena ini dan juga banyak yang tidak mengetahui.

Banyak anak-anak Indigo yang tidak dapat menyalurkan keberbakatannya, banyak hal ini terjadi akibat dari pola asuh orang tua yang melihat keberadaan mereka sebagai sesuatu yang aneh dan menjurus pada penyakit, sehingga sering pada awal kemunculan mereka dikatakan sebagai anak yang aneh, anak yang tidak wajar dan sangat mengganggu keberadaannya. Juga karena keaktifannya mereka di cap sebagai anak yang tidak mau patuh dan juga anak yang bandel. Selalu merasa tertekan dan tidak merasa nyaman dengan keadaan dunianya, belum lagi penolakan yang terjadi secara terang-terangan terhadap mereka menyebabkan banyak tekanan yang mereka terima dalam awal masa kehidupannya, hal itu sangat berbahaya untuk keadaan mentalnya di hari depan jika tidak dengan segera ditangani.

Sekolah sering kali menjadi sebuah tempat yang menyulitkan bagi mereka, mulai dari pergaulan dan juga peraturan-peraturannya, sebagian dari mereka bisa melewatinya dengan langgeng dan sebagian lagi ada yang melewatinya dengan penuh permasalahan bahkan keluar dari sekolah, sekolah bagaimanapun juga merupakan suatu sarana yang sangat penting bagi mereka untuk dapat memperoleh pelajaran dan pendidikan. Pola pendidikan yang tidak menyesuaikan perubahan generasi yang terjadi menjadi salah satu kendala, kurikulum yang itu-itu saja (walau selalu diperbaharui tapi tetap tidak berkembang), gaya mendidik dari guru-guru juga merupakan masalah dalam menangani para anak Indigo.

Perlakuan yang tidak wajar juga sering mereka terima dari lingkungannya, mulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Ada yang memperlakukan mereka seperti sesuatu yang sangat luar biasa dan menakjubkan dan ada juga yang memandang mereka terlalu rendah seperti orang sakit dan harus dihindari. Perlakuan yang tidak wajar ini akan membentuk suatu individu dengan pribadi yang juga tidak wajar, Hal ini perlu diperhatikan terutama bagi para orang tua dan para pendidik. Terlalu cepatnya para orang tua dalam mengambil kesimpulan seorang anak mengalami kelainan dan juga ketidak sabaran orang tua dalam mendidik anaknya akan menimbulkan “ketidak beresan” bagi anak Indigo. Di jadikan bahan tontonan bagi orang lain, di cap sebagai anak aneh, di juluki orang gila, ditanyai nomor buntut, ditanya tentang peruntungan dan jodoh, hingga pendewaan berlebihan bagi mereka juga sering terjadi. Di bawa ke psikiater yang tidak mengerti tentang fenomena anak Indigo sehingga ditangani dengan salah, mungkin kata sang psikiater anak tersebut mengalami kerusakan neurotransmiter, atau tidak seimbangnya antara hemisfer kiri dan hemisfer kanan, dan amigdala yang terlalu aktif, sehingga oleh si psikiater diberikan terapi obat dengan valium, prozac atau Xanax. Dan jadilah anak indigo itu sakit akibat tuduhan dan pengobatan yang meracuni dirinya.

Sampai saat ini masih jarang sekali kajian-kajian tentang anak Indigo di Indonesia, keberadaannya saja masih dipertanyakan oleh para praktisi padahal keberadaannya sudah jelas di depan mata. Tidak berfungsinya peraturan terhadap perlindungan anak dan juga perilaku budaya dalam masyarakat yang masih sangat kolot tidak membantu sama sekali terhadap permasalahan anak Indigo. Masyarakat yang tidak perduli, negara yang tidak perduli dan keterbatasan tenaga, modal dan kesempatan dalam pelaksanaan penelitian merupakan faktor penghambat dalam penanganan fenomena anak Indigo di Indonesia. Padahal mereka merupakan aset yang berharga jika di arahkan dengan baik.

Menyikapi fenomena Indigo

Berbicara tentang anak Indigo di Indonesia ada satu nama yang sering tersebut, Orang ini adalah seseorang yang di indikasi sebagai Indigo, Umurnya sudah dewasa sekitar 23 tahun, dia adalah Vincent Liong, beberapa kali pernah dibahas oleh beberapa media massa baik cetak (kompas, 27 juni 2004 – liputan6.com 25 juli 2004) maupun elektornik (Kick Andy-metroTV dan Fenomena-TransTV) dalam pembahasan mengenai fenomena Indigo. Dia (Vincent) yang memiliki IQ antara 125 sampai 130 ini memiliki banyak prestasi dalam menulis, salah satu bukunya yang berjudul berteduh dibawah payung telah beredar sejak beberapa tahun lalu dan diterbitkan oleh penerbit terkemuka, walau menulisnya dalam umur yang masih muda tapi tulisannya sangat dikagumi oleh banyak kalangan. Selain itu tulisannya juga pernah dimuat di halaman pembuka dari buku seorang legenda sastra Indonesia yang tidak lain adalah Pramoedya Ananta Toer.

Kini Ia sedang menekuni suatu Ilmu baru yang merupakan ciptaannya sendiri yaitu Dekon-kompatiologi, yang di klaim sebagai alat penyembuh bagi orang yang memiliki permasalahan atau lebih tepat jika dikatakan sebagai suatu bentuk metode terapi baru ciptaannya sendiri. Kelebihan Vincent adalah dari cara pandangnya yang sangat tidak terduga sebelumnya, juga gaya berfilosofi-nya yang sangat mengagumkan. Dan hingga kini Ia masih melanjutkan studi pribadinya yang berhubungan dengan filsafat, psikologi dan spiritual. Didukung oleh orang tua, teman dan para ahli yang membantunya, manjadikannya semakin mulus berjalan di jalannya.
Kisah tadi adalah kisah dari salah satu manusia berciri Indigo yang beruntung memiliki kesempatan untuk “membumikan ilmu langit-nya”, sedangkan tidak banyak dari anak Indigo di Indonesia yang memiliki kesempatan dan dorongan dari orang-orang di sekitarnya untuk mengembangkan keberbakatannya seperti yang dimiliki oleh Vincent Liong.

Melihat jumlahnya yang kini kian mendominasi anak-anak maka pihak dari orang tua dan sekolah merupakan salah satu penentu dari baik atau buruknya perkembangan yang akan dialami para anak Indigo, pendidikan dan memberikan contoh yang baik dirumah merupakan tanggung jawab dari para orang tua, pemberian kasih sayang yang tulus akan membuat mereka merasa nyaman dalam lingkungan rumah. Dengan kepercayaan yang ditimbulkan oleh cinta tulus dari orang tua kepada anak, dapat sangat berguna menumbuhkan ketentraman dan rasa aman dalam diri seorang anak, sehingga si anak tidak perlu merasa cemas yang berlebihan dikarenakan banyaknya pertanyaan yang mereka miliki tentang dunia ini.

Memandang mereka sebagai sesuatu yang aneh adalah suatu yang merugikan diri anak, walau dalam kenyataannya ada juga perilaku mereka yang sangat tidak wajar, tapi pada dasarnya penerimaan para orang tua dengan melihatnya sebagai sesuatu yang wajar dapat meredam rasa tertekan yang biasa mereka terima. Dukunglah kreatifitas mereka walau ada kecenderungan bagi mereka untuk berubah-ubah dalam bidang yang ditekuninya, namun semua itu merupakan suatu proses pemilihan bagi mereka dalam menemukan tempatnya yang paling sesuai. Dra.Sawitri Supardi Sadardjoen (dalam Gatra, edisi:21, Jum’at 2 April 2004) menyarankan kepada orang tua untuk “menormalkan” anak-anak berdaya linuwih ini. Ia menyarankan agar “menumpulkan” kemampuan si anak. Caranya dengan memberi pengertian bahwa apa yang di ketahui oleh si anak itu semata-mata hanya faktor “kebetulan”.

Kesetaraan dari orang-orang di sekitarnya sangat mereka butuhkan, sikap mengecilkan mereka akan tidak membantu dalam mendidik mereka, baik dalam rumah maupun sekolah rasa kesetaraan antara orang tua dan anak atau pengajar dengan yang diajar sangat dibutuhkan sehingga mereka bisa merasa aman ketika mencoba untuk mengeluarkan dan mengembangkan keahlian juga kemampuan yang mereka miliki. Doronglah terus kekreatifan anak secara terarah dan tidak menekan, di bumbui dengan disiplin yang mantap dari orang–orang di sekitarnya juga disertai cinta kasih yang tulus, niscaya akan menjadikan mereka sebagai individu yang unggul. Dan yang terakhir adalah jadikan mereka sebagai mitra dalam membesarkan mereka, biarkan mereka mengungkapkan apa keinginan mereka kepada orang tua dan para orang tua diharap bisa menjadi pihak yang pertama kali mengerti tentang mereka bukan sebagai pihak penolak utama dari keberadaan mereka di dalam dunia ini.

Kesimpulan

Dalam makalah ini yang berjudul “80% anak-anak yang terlahir sekarang adalah indigo” saya menulis tentang kenyataan yang tengah terjadi di luar sana, sampai tulisan ini tertulis jumlah para Indigo yang terlahir semakin banyak, dan mereka sekali lagi akan mendominasi muka bumi. Tak ada yang bisa menahannya dan ini merupakan bentuk dari evolusi manusia. Mereka ada dan sebagian dari kita adalah mereka, terus bertambah hingga sebagian besar dari kita adalah mereka, masalah tentang fenomena Indigo menjadi gempar hanya pada awal kemunculannya saja dan setelah seperti sekarang ini semua itu hanya menjadi sesuatu yang hanya biasa-biasa saja. Sekolah khusus untuk anak Indigo di amerika sudah sangat banyak bertebaran dan jumlah sekolah itu juga akan semakin banyak dari waktu-ke-waktu mengingat para Indigo kini semakin banyak juga jumlahnya.

Mereka yang terlahir paling cepat sebagai Indigo mungkin kini sudah merasa biasa-biasa saja dengan keadaan mereka yang cenderung berbeda dengan orang-orang lainnya, tak ada lagi keistimewaan yang mereka rasakan dan cenderung biasa-biasa saja. Karena ternyata Indigo juga bukanlah sebuah fenomena terakhir, laporan paling kini menyebutkan kalau telah lahir manusia yang disebut sebagai Crystal Children, yaitu mereka yang terlahir dengan warna aura bening dengan kesadaran yang lebih baru lagi. Kemunculan mereka juga tidak bisa ditahan dan terus saja terlahir hingga menguasai seluruh muka bumi, mendominasi jumlah manusia, dan menjadi generasi penerus bagi umat manusia.

Mungkin ada benarnya bagi yang mengatakan kalau fenomena Indigo hanyalah sesuatu yang terlalu di besar-besarkan, jika seorang anak di indikasikan sebagai seorang Indigo, lalu kenapa? Hanya sebatas itukah?, “apa yang bisa mereka lakukan?” mungkin itulah yang lebih penting, apa yang bisa mereka lakukan untuk kesejahteraan lingkungan mereka, apa yang mereka sumbangkan dari “ilmu langit” mereka yang dibumikan, bukan hanya sekedar “Indigo” dan selesai. Para anak yang terlahir adalah generasi penerus dari keberadaan manusia di atas muka bumi ini, meneruskan peradaban hingga batas waktu yang telah ditentukan, sampai mereka pada akhirnya digantikan oleh generasi yang lebih baru lagi. Namun, Semua keadaan ini bagi penulis tetaplah sebuah tanda yang nyata dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Sumber : http://www.odllirama.com/2008/08/80-anak-anak-yang-terlahir-sekarang.html

About sayabisaberubah

Apa adanya aja... dan selalu berharap bisa menjadi lebih baik setiap harinya
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s