Program Akselerasi, Perlukah?

Orang tua mana yang tak bangga anaknya dipuji sebagai anak pintar? Di sekolah, saat sang guru kembali memuji, Selamat, anak ibu dan bapak cerdas dan berprestasi! WOW…hati serasa melambung

Kepandaian dimiliki semua anak, antara lain dapat kita ukur dari prestasi belajar anak disekolah. Alat ukur lain yang sering dimanfaatkan adalah tes IQ.

Namun apakah kecerdasan semata-mata diukur dengan angka-angka itu? Sedang pada rapor sekolah anak disebut pintar bila mempunyai tinggi, sedang atau kurang pada anak yang mempunyai nilai rendah.

Menurut Dave Meier, penulis The Accelerated Learning Handbook, Cerdas bukan semata-mata urusan kognitif. Tapi juga emosi dan sikap sosial anak.

Timbul Kesalahpahaman tentang makna pandai/cerdas/pintar/atau apapun namanya, seorang ibu misalnya bila mengetahui anaknya punya IQ tinggi, bernilai bagus, lahap membaca buku, buru-buru memasukkan anak pada program akselerasi. Ia bahkan melobi sekolah agar anaknya bisa loncat kelas. Padahal secara emosi anak yang masih kelas 1 SD itu masih senang bermain-main dengan teman sebaya dan masih merengek pada sang ibu.

Namun, penerapan program akselerasi berdasarkan undang-undang, jadi diperbolehkan, yaitu undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional pasal 8 ayat 2

Melalui program akselerasi, anak akan mendapat keuntungan, karena memperoleh bantuan pengajaran seusai dengan bakat dan intelektualnya. Dengan program percepatan diharapkan siswa berbakat tidak bosan dikelas, sehingga tidak menganggu, mengacau kelas, dan anak dapat maju terus dengan cepat.

Namun dipihak lain, tak sedikit yang berpendapat bahwa kelas akselerasi justru membuat siswa tidak bisa mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka. Dalam pandangan mereka, anak-anak berbakat itu tak beda dengan anak pada umumnya yang membutuhkan lingkungan bergaul yang sepadan dengan emosi anak. Anak-anak itu juga membutuhkan penghargaan, perwujudan diri, dan pendidikan nilai kemanusiaan

Pendeknya, dibutuhkan pemikiran matang sebelum memasukkan anak pada program akselerasi. Dan menurut Meier, Dalam pendidikan anak, Anda tak bisa memisahkan pikiran, pengetahuan, tubuh, emosi, indera dan lingkungannya.

Dirangkum dari majalah anakku

Sumber : http://cendana.web.id/forum/index.php?topic=304.0

About sayabisaberubah

Apa adanya aja... dan selalu berharap bisa menjadi lebih baik setiap harinya
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s