KEKURANGAN YODIUM BISA LAHIRKAN ANAK IDIOT

Lebak, 11/12 (Lifestyle.Roll) – Kepala Seksi Gizi, Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Banten, Tata Sudita mengingatkan bahwa kekurangan yodium bisa melahirkan anak idiot dan kerdil sehingga bisa mengancam generasi bangsa, oleh karena itu para ibu hamil harus banyak mengkonsumsi garam yang beryodium.

“Selama ini banyak garam non yodium beredar dipasaran dan tersebar di pelosok-pelosok desa,” kata Tata Sudita, Kamis.

Dia mengatakan, masalah gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), saat ini masih banyak ditemukan di Kabupaten Lebak, terutama di kalangan ibu hamil yang tinggal di pelosok-pelosok desa.

Apabila seorang ibu yang sedang hamil kekurangan yodium maka bayi yang akan dilahirkannya tingkat kecerdasan (IQ) akan kurang atau idiot.

Ia mengatakan akibat kekurangan yodium bukan hanya menimbulkan penyakit gondok saja, namun bisa mengalami keterbelakangan mental.

Menurut dia, untuk menanggulangi kekurangan yodium bisa dilakukan dengan cara jangka pendek atau jangka panjang.

Untuk jangka pendek yakni dengan memberikan kapsul minyak beryodium dengan sasaran Wanita Usia Subur, termasuk ibu hamil dan menyusui setahun sekali.

Sedangkan untuk penanggulangan jangka panjang berupa peningkatan konsumsi garam beryodium dengan sasaran semua warga.

Saat ini menurut dia, masih banyak keluarga yang tidak mengkonsumsi garam beryodium.

Oleh karena itu, pihaknya bergharap pemerintah daerah segera melakukan penertiban pedagang garam non yodium karena sangat berbahaya bagi kesehatan manusia.

“Bila perlu dibuatkan peraturan daerah (Perda) garam karena kekurangan yodium bisa melahirkan generasi yang tidak berkualitas,” katanya.

Sementara itu, anggota survei gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY), Provinsi Banten, Tiara, mengakui bahwa saat ini masih banyak garam non yodium beredar di pasaran wilayah selatan Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Penjualan garam non yodium berbentuk bata banyak dijual di pasar-pasar.

Sementara garam krosok pada kemasan yang besar mencapai 1 sampai 2 Kg sering dijumpai di pengecer atau warung.

“Sebagian besar produksi garam yang tidak mengandung yodium berasal dari Cirebon, Indramayu dan Pati, Jawa Tengah,” katanya.

Oleh sebab itu, pihaknya meminta petugas medis mengadakan survei ke warung-warung untuk mencari garam yang tidak memenuhi syarat kesehatan itu.

Sumber : http://lifestyle.id.finroll.com/component/content/article/25-berita-terkini/8325.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pengertian dan Ciri-ciri Anak Idiot

Merry Wahyuningsih – detikHealth Ciri khas Idiot (Lucinda Foundation) Jakarta, Istilah idiot sebenarnya sudah tidak dipakai di dunia medis untuk menyebut anak-anak yang memiliki kelambanan menangkap respons baik secara motorik, kognitif, sosial dan bahasa. Apa yang menjadi penyebab keterbelakangan mental atau retardasi mental itu? Meski intelligence quotient (IQ) bukan satu-satunya cara untuk mengukur anak ‘idiot’ tapi kebanyakan anak dengan kondisi itu memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal. Standar IQ yang normal menurut skala Stanford-Binet adalah di kisaran 85-115. Hanya 1 persen saja populasi di dunia yang memiliki tingkat IQ di atas 135. Separuh (50%) populasi di dunia memiliki IQ rata-rata di kisaran 90-110, sebesar 25% memiliki IQ di atas rata-rata itu dan 25% populasi di dunia memiliki IQ di bawahnya. Orang yang ber-IQ rendah di bawah 70 dan sulit berkomunikasi dengan orang lain yang biasanya disebut ‘idiot’ atau keterbelakangan mental. Orang-orang seperti ini memiliki kepribadian yang unik namun dalam kehidupan sosial sering menjadi olok-olokan di masyarakat. Seperti dilansir dari keepkidshealthy, Selasa (16/3/2010), ‘idiot’ diklasifikasikan menurut besarnya IQ, yaitu: 1. Ringan Nilai IQ antara 55-69. Sekitar 85 persen anak ‘idiot’ berada di kisaran ini, dan tergolong yang berpendidikan. Anak-anak tersebut dapat belajar membaca dan menulis hingga kelas 4 atau 5. Mereka relatif hidup mandiri dan bisa bekerja dengan pelatihan khusus. 2. Sedang Nilai IQ antara 40-54. Sekitar 10 persen anak ‘idiot’ masuk klasifikasi ini, juga tergolong yang dapat dilatih. Anak-anak ini mungkin memiliki potensi akademik di TK atau kelas 1. Memiliki kemampuan terbatas untuk membaca dan biasanya membutuhkan dukungan dan pengawasan sehari-hari dalam kegiatan hidup, dan bisa bekerja dengan pelatihan khusus. 3. Parah Nilai IQ antara 25-39. Sekitar 5 persen anak ‘idiot’ masuk klasifikasi ini. Anak-anak dengan tingkat ini tampaknya tidak akan mampu belajar membaca dan menulis, tetapi mungkin bisa ke toilet sendiri dengan dilatih dan berpakaian dengan dibantu. Mereka biasanya membutuhkan pengawasan dan dukungan total untuk kegiatan kehidupan sehari-hari. 4. Mendalam Nilai IQ di bawah 24, dan kurang dari 1 persen anak ‘idiot’ yang berada di klasifikasi ini. Namun sebuah sistem klasifikasi lebih baru dikembangkan pada tahun 1992 yang tidak didasarkan pada nilai IQ. Pengelompokkan anak keterbelakangan mental didasarkan pada jumlah dukungan dan pengawasan terhadap kebutuhan individu yaitu intermittent, limited, extensive dan pervasive. Ada banyak hal yang menjadi pemicu anak mengalami ‘idiot’. Biasanya dikelompokkan menjadi: 1. Prenatal (sebelum lahir) Disebabkan oleh: – Kelainan kromosom, termasuk sindrom Fragile X – Cacat gen – Terkena racun atau infeksi selama kehamilan 2. Perinatal Disebabkan oleh: – Lahir prematur – Komplikasi infeksi 3. Postnatal (setelah lahir) Disebabkan oleh: – Infeksi – Keracunan – Gangguan metabolisme – Trauma kepala Lebih dari setengah anak ‘idiot’ ringan tidak dapat diidentifikasi penyebabnya, tetapi ‘idiot’ berat jauh lebih mungkin ditemukan penyebabnya, dengan kemungkinan sekitar 75 persen. Tes untuk mengidentifikasikan penyebab ‘idiot’ tergantung pada kondisi di penderita. Pengujian biasanya terbatas pada analisa kromosom untuk Down Sindrom atau sindrom Fragile X. Atau lebih dalam lagi dapat dilakukan pengujian dengan MRI otak. Pengujian akan meliputi tes psikologis untuk mengevaluasi tingkat IQ dan fungsinya. Penyebab umum ‘idiot’, meliputi: 1. Down syndrome Merupakan penyebab yang paling umum dari ‘idiot’ sedang hingga parah. 2. Fragile X syndrome Ini merupakan penyebab paling umum dari ‘idiot’. 3. Rett syndrome Sindrom ini hanya berpengaruh pada perempuan. Gejala anak yang mengalami idiot dapat sangat bervariasi, tergantung pada penyebab dan beratnya. Secara umum, kebanyakan tanpa bukti fisik seperti bayi dengan Down sindrom yang diduga menderita ‘idiot’ ketika mereka tidak memenuhi tahap perkembangan sesuai dengan usianya. Beberapa anak dengan ‘idiot’ ringan tidak teridentifikasi sampai mereka mulai bersekolah. Pengobatannya tergantung pada penyebab tetapi secara umum tidak ada obat untuk ‘idiot’. Perawatan hanya dimaksudkan untuk mengajarkan keterampilan yang diperlukan untuk memaksimalkan bagaimana mereka dapat mandiri. Anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental mungkin memiliki kondisi lainnya juga seperti autisme, ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan kecemasan, depresi, obcessive compulsive disorder, cerebral palsy, epilepsi, hyrocephalus, dan spina bifida, dan masalah tingkah laku. Jika ada, kondisi-kondisi tersebut harus ditanggapi secara baik. Masa-masa mengandung ibu hamil dan konsumsi makanan bergizi bisa mencegah lahirnya anak keterbelakangan mental. Anak-anak dalam kondisi seperti ini banyak yang bisa melewati hidupnya dengan baik karena memiliki keterampilan yang cukup yang bisa didapat dari sekolah-sekolah khusus.(mer/ir) sumber: http://health.detik.com/read/2010/03/16/091549/1318883/763/idiot-dan-penyebabnya

tanggal akses: 14 April 2010

sumber : http://ideguru.wordpress.com/2010/04/13/pengertian-dan-ciri-ciri-anak-idiot/

Posted in Uncategorized | Leave a comment

80% Anak-anak Yang Terlahir Sekarang Adalah Indigo*

*data dari buku The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku (Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)

Tentang anak Indigo

Kata Indigo dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah “warna biru tua yang diperoleh dari tumbuhan nila atau tarum”. Anak Indigo istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang paranormal bernama Nancy Ann Tappe dalam bukunya yang berjudul Understanding your life through color. Disebut olehnya sebagai indigo karena warna yang ada di sekitar anak-anak itu adalah warna indigo atau warna biru tua, yang dimaksud dengan warna yang ada disekitar anak-anak itu adalah warna kehidupan atau lebih dikenal dengan warna Aura, cahaya yang dipancarkan oleh manusia. Ya, anak-anak Indigo adalah mereka yang hidup dengan warna aura yang berwarna biru tua (indigo).

Lalu apa bedanya mereka dengan anak-anak lain? Mungkin pertanyaan itu juga yang mengakibatkan banyaknya terjadi spekulasi tentang fenomena kemunculan anak-anak ajaib ini, secara kasar perbedaan mereka dari anak-anak yang lahir sebelumnya adalah mereka terlahir dengan seperangkat atribut psikologis yang berbeda dan belum pernah terdokumentasikan sebelumnya. Secara fisik anak indigo memang sama dengan anak-anak lainnya, tapi mereka memiliki batin yang tua (old soul), sehingga mereka sering kali menunjukan suatu jiwa orang yang lebih dewasa dibandingkan dengan jiwa konservatif yang biasa muncul didalam anak seusianya pada umumnya. Ditambah mereka juga terkadang memiliki kemampuan intuisi yang sangat mengagumkan, dan yang lebih jelas adalah mereka biasanya memiliki IQ yang berada pada tingkat diatas rata-rata. Tak ada penemuan yang jelas yang dapat menentukan kapan tepatnya untuk pertama kali anak indigo terlahir, tapi sebagian ilmuwan berpendapat pada akhir tahun 1970-an merupakan tahun kelahiran mereka yang pertama. Jumlah mereka dari tahun-ke-tahun semakin banyak dan hingga kini sampai pada angka 80%. Pada awal kemunculannya para anak indigo lebih dianggap sebagai penderita suatu kelainan atau penyakit, mereka sering di cap sebagai pengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder = gangguan hiperaktif kekurangan perhatian) atau ADD (Attention Deficit Disorder = gangguan kekurangan perhatian) juga Autis, sehingga mereka sering diusahakan agar sembuh dari suatu penyakit yang sebenarnya bukan penyakit.

Lee carroll & Jan tobber dalam bukunya The Indigo Children mengemukakan 10 ciri umum dari anak Indigo, yaitu:
1. Mereka memasuki dunia dengan perasaan keningratan (dan sering kali bertindak seperti itu)
2. mereka memiliki perasaan “pantas berada di sini”, dan terkejut jika orang lain tidak berpandangan seperti itu
3. harga diri bukanlah persoalan besar. Mereka sering memberitahu orang tua mereka tentang “siapa diri mereka”
4. mereka memiliki kesulitan dengan otoritas absolut (otoritas tanpa penjelasan atau pilihan)
5. mereka benar-benar tidak akan melakukan hal-hal tertentu; sebagai contoh, menunggu di antrean sangat sulit bagi mereka.
6. mereka merasa frustasi dengan sistem yang berorientasi pada ritual dan tidak memerlukan pemikiran kreatif.
7. mereka sering melihat cara-cara yang lebih baik dalam melakukan segala sesuatu, baik di dalam rumah maupun di sekolah, yang membuat mereka tampak seperti “perusak sistem”, tidak patuh pada sistem apapun.
8. mereka tampak antisosial kecuali jika mereka bersama dengan orang-orang yang sejenis dengan mereka. Jika tidak ada orang lain yang memiliki kesadaran yang sama disekitar mereka, mereka sering berpaling kedalam diri, merasa seperti tidak ada orang lain yang memahami mereka. Sekolah sering kali menjadi luar biasa sulit bagi mereka secara sosial.
9. mereka tidak akan bereaksi terhadap disiplin “rasa bersalah”
10. mereka tidak malu memberitahu anda tentang apa yang mereka butuhkan.

Selama ini fenomena anak Indigo terlihat lebih menyita dunia spiritual yang berujung pada magis atau para-psikologi dalam setiap pembahasannya, memang sepertinya terlihat aneh dan cukup mengherankan karena hal ini adalah suatu bentuk dari evolusi manusia yang paling mutakhir. Tak disangka sebelumnya kalau bentuk dari evolusi itu akhirnya dapat dirasakan dengan jelas pada masa sekarang ini, jelas sekali banyak pihak yang terkaget-kaget dan juga ada yang menyangkal, namun tetap saja evolusi itu terjadi dan tidak dapat dibendung. Coba katakan jika ada anggapan kalau para Indigo adalah para anak setan yang harus dimusnahkan dan haruskah kita menghabiskan seluruh generasi yang baru itu dengan melakukan genocide atau pemusnahan massa? Atau mungkin juga ada anggapan kalau para indigo merupakan para malaikat yang terlahir sebagai manusia, yah kalau memang begitu adanya pasti akan tercipta suatu kehidupan yang sangat baik di masa yang akan datang. Ada juga yang melihat bahwa para anak indigo merupakan suatu reinkarnasi dari orang-orang terdahulu, bukan hanya dari jiwa orang yang telah meninggal dunia di bumi tapi juga dari jiwa makhluk yang lain dari dimensi lain, biarlah pandangan itu diyakini oleh mereka yang meyakini, yang jelas mereka (para indigo) akan segera menguasai seluruh muka bumi.

Penulis membuat makalah ini hanya untuk memberikan pandangannya dalam menanggapi fenomena kelahiran anak-anak baru ini, yang menurut keterangan 2 buah buku yang memang membahas tentang anak indigo [The Indigo children (Lee carroll & Jan tobber) & 17 emosi negatif anak indigo – terapi mental dan perilaku ( Wayne Dosick Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW)] menyimpulkan bahwa pada saat sekarang ini tingkat kelahiran 80% merupakan kelahiran dari anak-anak indigo. Jumlah ini memungkinkan bahwa seluruh manusia pada beberapa tahun yang akan datang akan di dominasi oleh para indigo. Sekali lagi dikatakan bahwa kemunculan mereka tidak dapat di hentikan sama sekali. Fenomena itu akan tidak menjadi sesuatu yang luar biasa karena memang telah menjadi suatu standar baru dalam manusia. Suatu generasi yang telah disiapkan untuk menghadapi masa depan dengan segala macam tantangannya, mereka terlahir melewati batas budaya, ras, agama, kelompok, etnis dan segala macam batasan yang diciptakan oleh manusia.

Kelahiran mereka di atas bumi Indonesia tidaklah sebegitu menggemparkan seperti di dunia barat (bahkan lebih dianggap “meng-ada-ada”). Walaupun banyak kalangan akademisi yang mengakui hal tersebut. Mungkin karena masyarakat indonesia yang masih tertutup matanya terhadap berbagai hal yang terjadi di dalam dunia ini, adanya keterbatasan akses untuk mendapatkan informasi oleh masyarakat masih saja menjadi masalah utama yang dialami oleh bangsa ini, belum lagi kendala bahasa dimana literatur tentang penelitian Anak Indigo kebanyakan ditulis dalam bahasa asing, ditambahkan dengan masyarakat yang bersikap tidak mau tahu telah “melengkapkan ketidak-tahuannya”. serta juga tingkat pendidikan masyarakatnya, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan tidak ter-urus, disebabkan oleh pihak penyelenggara negara yang masih memiliki begitu banyak problema yang lebih penting dari pada menangani masalah anak-anak baru ini, atau mungkin mereka tidak perduli tapi yang mungkin lebih tepat adalah mereka tidak mengerti.

Lupakan masalah negara, rakyat kecil hanya menjadi korban dalam hal itu. Mari kembali ke awal permasalahan yaitu anak-anak baru yang disebut dengan indigo ini. Penulis dalam hal makalah ini membatasi pembahasan kedalam bagaimana penanganan dan menyikapi atas kemunculan anak-anak baru ini, semoga makalah yang masih banyak kurang dan memerlukan banyak kritikan ini dapat berguna dalam pembahasan masalah anak-anak baru ini. Pihak yang ditujukan adalah pihak guru, orang tua dan lingkungan secara khusus dan dan masyarakat yang luas secara umum.

Permasalahan Anak Indigo

Anak yang “aneh”, mungkin kata itu yang sering terucap untuk menggambarkan seorang anak indigo. Sebagian ada yang mengatakan kalau para indigo memiliki kemampuan meramal masa depan yang akurat, sebagian ada yang melaporkan kalau para indigo dapat melihat makhluk-makhluk kasat mata, yang lain mengatakan anak-anak baru ini berasal dari dimensi yang berbeda, ada lagi yang bilang kalau mereka merupakan anak-anak surga, pernah terdengar juga kalau mereka merupakan cikal bakal Dajjal (penjahat yang muncul di akhir jaman). Notradamus seorang peramal asal eropa, dalam ramalannya mengatakan kalau bumi akan dikuasai oleh manusia berserban biru (sebagian orang kini mengartikan kalau itu adalah para indigo), ada yang membuktikan kalau para indigo terlahir dengan kemampuan ESP (extra-sensory perception) yang kuat, ada yang yakin mereka adalah reinkarnasi dari para orang hebat dimasa lalu, ada juga yang beranggapan kalau para indigo adalah anak-anak yang terlahir dengan misi messianic (misi penyelamatan dunia), di Indonesia berdasarkan stigma yang beredar di masyarakat ada yang percaya kalau anak-anak ini “ada yang nempel” (setan, jin, makhluk halus, genderuwo, mak lampir, leak, iblis, kuntilanak, sundal-bolong, Dll) sehingga sering di bawa ke ahli nujum atau ke orang yang dianggap kuat ilmu spritualnya untuk dihilangkan sesuatu yang nempel-nya itu. Dan itulah sebagian kecil dari sangkaan-sangkaan dan kenyataan yang terjadi pada para anak indigo, tapi bagi penulis yang paling masuk akal adalah mereka muncul sebagai bentuk dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Tuduhan yang paling populer adalah mereka merupakan anak-anak yang menderita suatu penyakit dan harus disembuhkan. Baik di Amerika yang merupakan negara pencetus konsep indigo, maupun di seluruh dunia, para indigo sering disebut sebagai penderita ADD atau ADHD, karena mereka cenderung menunjukan gejala tersebut, tapi harus diingat kalau tidak semua anak indigo menderita ADD atau ADHD, begitu pula sebaliknya, setiap penderita ADD atau ADHD belum tentu seorang indigo. Indigo disangka sebagai penyakit karena sebelumnya hal tersebut belum pernah di dokumentasikan oleh masyarakat, lalu pada diri mereka muncul suatu perilaku yang sangat lain dari perilaku yang biasa ditunjukan oleh para anak yang terlahir sebelumnya, sehingga karena memiliki perbedaan maka disebut sebagai suatu yang tidak normal, mengalami gangguan dan sakit. Banyak terjadi kasus yang merupakan salah diagnosis dan juga menghasilkan suatu cara penyembuhan berbahaya yang dilakukan terhadap sesuatu yang sebenarnya bukan penyakit, berusaha menghilangkan sesuatu yang bukan merupakan penyakit dan mungkin juga itu merupakan suatu perangkat yang penting dalam diri seorang anak dapat mengakibatkan suatu kerusakan yang cukup membahayakan pada anak tersebut, alih-alih menyembuhkan malah celaka yang didapatkan.

Kemampuan sangat istimewa memang banyak ditemukan di dalam diri anak indigo dan kemampuan itu terkadang menjadi sesuatu yang sangat istimewa bagi mereka, sering juga kemampuan itu tidak muncul ketika akan digunakan dalam kesengajaan. Kemampuan intuisi yang sangat tinggi jelas mereka miliki banyak laporan yang menyebutkan bahwa mereka melihat dunia melalui suatu paradigma dan kaca mata yang baru. Dalam hal spiritualitas mereka sangat dalam, sehingga memiliki kemampuan intrapersonal yang berbeda, dan merupakan suatu tingkat kesadaran diri yang berbeda.

Pandangan yang mengaitkan para anak indigo dengan sesuatu yang bersifat irasional dan cenderung mistis di indonesia sudah menjadi suatu stigma yang berlaku, karena memang terkait dengan kebudayaan masyarakat Indonesia itu sendiri, sebagian besar masih memiliki kebudayaan mistis yang kental. Dalam kelahirannya di negeri Indonesia masih banyak juga yang tidak perduli dengan fenomena ini dan juga banyak yang tidak mengetahui.

Banyak anak-anak Indigo yang tidak dapat menyalurkan keberbakatannya, banyak hal ini terjadi akibat dari pola asuh orang tua yang melihat keberadaan mereka sebagai sesuatu yang aneh dan menjurus pada penyakit, sehingga sering pada awal kemunculan mereka dikatakan sebagai anak yang aneh, anak yang tidak wajar dan sangat mengganggu keberadaannya. Juga karena keaktifannya mereka di cap sebagai anak yang tidak mau patuh dan juga anak yang bandel. Selalu merasa tertekan dan tidak merasa nyaman dengan keadaan dunianya, belum lagi penolakan yang terjadi secara terang-terangan terhadap mereka menyebabkan banyak tekanan yang mereka terima dalam awal masa kehidupannya, hal itu sangat berbahaya untuk keadaan mentalnya di hari depan jika tidak dengan segera ditangani.

Sekolah sering kali menjadi sebuah tempat yang menyulitkan bagi mereka, mulai dari pergaulan dan juga peraturan-peraturannya, sebagian dari mereka bisa melewatinya dengan langgeng dan sebagian lagi ada yang melewatinya dengan penuh permasalahan bahkan keluar dari sekolah, sekolah bagaimanapun juga merupakan suatu sarana yang sangat penting bagi mereka untuk dapat memperoleh pelajaran dan pendidikan. Pola pendidikan yang tidak menyesuaikan perubahan generasi yang terjadi menjadi salah satu kendala, kurikulum yang itu-itu saja (walau selalu diperbaharui tapi tetap tidak berkembang), gaya mendidik dari guru-guru juga merupakan masalah dalam menangani para anak Indigo.

Perlakuan yang tidak wajar juga sering mereka terima dari lingkungannya, mulai dari rumah, sekolah dan masyarakat. Ada yang memperlakukan mereka seperti sesuatu yang sangat luar biasa dan menakjubkan dan ada juga yang memandang mereka terlalu rendah seperti orang sakit dan harus dihindari. Perlakuan yang tidak wajar ini akan membentuk suatu individu dengan pribadi yang juga tidak wajar, Hal ini perlu diperhatikan terutama bagi para orang tua dan para pendidik. Terlalu cepatnya para orang tua dalam mengambil kesimpulan seorang anak mengalami kelainan dan juga ketidak sabaran orang tua dalam mendidik anaknya akan menimbulkan “ketidak beresan” bagi anak Indigo. Di jadikan bahan tontonan bagi orang lain, di cap sebagai anak aneh, di juluki orang gila, ditanyai nomor buntut, ditanya tentang peruntungan dan jodoh, hingga pendewaan berlebihan bagi mereka juga sering terjadi. Di bawa ke psikiater yang tidak mengerti tentang fenomena anak Indigo sehingga ditangani dengan salah, mungkin kata sang psikiater anak tersebut mengalami kerusakan neurotransmiter, atau tidak seimbangnya antara hemisfer kiri dan hemisfer kanan, dan amigdala yang terlalu aktif, sehingga oleh si psikiater diberikan terapi obat dengan valium, prozac atau Xanax. Dan jadilah anak indigo itu sakit akibat tuduhan dan pengobatan yang meracuni dirinya.

Sampai saat ini masih jarang sekali kajian-kajian tentang anak Indigo di Indonesia, keberadaannya saja masih dipertanyakan oleh para praktisi padahal keberadaannya sudah jelas di depan mata. Tidak berfungsinya peraturan terhadap perlindungan anak dan juga perilaku budaya dalam masyarakat yang masih sangat kolot tidak membantu sama sekali terhadap permasalahan anak Indigo. Masyarakat yang tidak perduli, negara yang tidak perduli dan keterbatasan tenaga, modal dan kesempatan dalam pelaksanaan penelitian merupakan faktor penghambat dalam penanganan fenomena anak Indigo di Indonesia. Padahal mereka merupakan aset yang berharga jika di arahkan dengan baik.

Menyikapi fenomena Indigo

Berbicara tentang anak Indigo di Indonesia ada satu nama yang sering tersebut, Orang ini adalah seseorang yang di indikasi sebagai Indigo, Umurnya sudah dewasa sekitar 23 tahun, dia adalah Vincent Liong, beberapa kali pernah dibahas oleh beberapa media massa baik cetak (kompas, 27 juni 2004 – liputan6.com 25 juli 2004) maupun elektornik (Kick Andy-metroTV dan Fenomena-TransTV) dalam pembahasan mengenai fenomena Indigo. Dia (Vincent) yang memiliki IQ antara 125 sampai 130 ini memiliki banyak prestasi dalam menulis, salah satu bukunya yang berjudul berteduh dibawah payung telah beredar sejak beberapa tahun lalu dan diterbitkan oleh penerbit terkemuka, walau menulisnya dalam umur yang masih muda tapi tulisannya sangat dikagumi oleh banyak kalangan. Selain itu tulisannya juga pernah dimuat di halaman pembuka dari buku seorang legenda sastra Indonesia yang tidak lain adalah Pramoedya Ananta Toer.

Kini Ia sedang menekuni suatu Ilmu baru yang merupakan ciptaannya sendiri yaitu Dekon-kompatiologi, yang di klaim sebagai alat penyembuh bagi orang yang memiliki permasalahan atau lebih tepat jika dikatakan sebagai suatu bentuk metode terapi baru ciptaannya sendiri. Kelebihan Vincent adalah dari cara pandangnya yang sangat tidak terduga sebelumnya, juga gaya berfilosofi-nya yang sangat mengagumkan. Dan hingga kini Ia masih melanjutkan studi pribadinya yang berhubungan dengan filsafat, psikologi dan spiritual. Didukung oleh orang tua, teman dan para ahli yang membantunya, manjadikannya semakin mulus berjalan di jalannya.
Kisah tadi adalah kisah dari salah satu manusia berciri Indigo yang beruntung memiliki kesempatan untuk “membumikan ilmu langit-nya”, sedangkan tidak banyak dari anak Indigo di Indonesia yang memiliki kesempatan dan dorongan dari orang-orang di sekitarnya untuk mengembangkan keberbakatannya seperti yang dimiliki oleh Vincent Liong.

Melihat jumlahnya yang kini kian mendominasi anak-anak maka pihak dari orang tua dan sekolah merupakan salah satu penentu dari baik atau buruknya perkembangan yang akan dialami para anak Indigo, pendidikan dan memberikan contoh yang baik dirumah merupakan tanggung jawab dari para orang tua, pemberian kasih sayang yang tulus akan membuat mereka merasa nyaman dalam lingkungan rumah. Dengan kepercayaan yang ditimbulkan oleh cinta tulus dari orang tua kepada anak, dapat sangat berguna menumbuhkan ketentraman dan rasa aman dalam diri seorang anak, sehingga si anak tidak perlu merasa cemas yang berlebihan dikarenakan banyaknya pertanyaan yang mereka miliki tentang dunia ini.

Memandang mereka sebagai sesuatu yang aneh adalah suatu yang merugikan diri anak, walau dalam kenyataannya ada juga perilaku mereka yang sangat tidak wajar, tapi pada dasarnya penerimaan para orang tua dengan melihatnya sebagai sesuatu yang wajar dapat meredam rasa tertekan yang biasa mereka terima. Dukunglah kreatifitas mereka walau ada kecenderungan bagi mereka untuk berubah-ubah dalam bidang yang ditekuninya, namun semua itu merupakan suatu proses pemilihan bagi mereka dalam menemukan tempatnya yang paling sesuai. Dra.Sawitri Supardi Sadardjoen (dalam Gatra, edisi:21, Jum’at 2 April 2004) menyarankan kepada orang tua untuk “menormalkan” anak-anak berdaya linuwih ini. Ia menyarankan agar “menumpulkan” kemampuan si anak. Caranya dengan memberi pengertian bahwa apa yang di ketahui oleh si anak itu semata-mata hanya faktor “kebetulan”.

Kesetaraan dari orang-orang di sekitarnya sangat mereka butuhkan, sikap mengecilkan mereka akan tidak membantu dalam mendidik mereka, baik dalam rumah maupun sekolah rasa kesetaraan antara orang tua dan anak atau pengajar dengan yang diajar sangat dibutuhkan sehingga mereka bisa merasa aman ketika mencoba untuk mengeluarkan dan mengembangkan keahlian juga kemampuan yang mereka miliki. Doronglah terus kekreatifan anak secara terarah dan tidak menekan, di bumbui dengan disiplin yang mantap dari orang–orang di sekitarnya juga disertai cinta kasih yang tulus, niscaya akan menjadikan mereka sebagai individu yang unggul. Dan yang terakhir adalah jadikan mereka sebagai mitra dalam membesarkan mereka, biarkan mereka mengungkapkan apa keinginan mereka kepada orang tua dan para orang tua diharap bisa menjadi pihak yang pertama kali mengerti tentang mereka bukan sebagai pihak penolak utama dari keberadaan mereka di dalam dunia ini.

Kesimpulan

Dalam makalah ini yang berjudul “80% anak-anak yang terlahir sekarang adalah indigo” saya menulis tentang kenyataan yang tengah terjadi di luar sana, sampai tulisan ini tertulis jumlah para Indigo yang terlahir semakin banyak, dan mereka sekali lagi akan mendominasi muka bumi. Tak ada yang bisa menahannya dan ini merupakan bentuk dari evolusi manusia. Mereka ada dan sebagian dari kita adalah mereka, terus bertambah hingga sebagian besar dari kita adalah mereka, masalah tentang fenomena Indigo menjadi gempar hanya pada awal kemunculannya saja dan setelah seperti sekarang ini semua itu hanya menjadi sesuatu yang hanya biasa-biasa saja. Sekolah khusus untuk anak Indigo di amerika sudah sangat banyak bertebaran dan jumlah sekolah itu juga akan semakin banyak dari waktu-ke-waktu mengingat para Indigo kini semakin banyak juga jumlahnya.

Mereka yang terlahir paling cepat sebagai Indigo mungkin kini sudah merasa biasa-biasa saja dengan keadaan mereka yang cenderung berbeda dengan orang-orang lainnya, tak ada lagi keistimewaan yang mereka rasakan dan cenderung biasa-biasa saja. Karena ternyata Indigo juga bukanlah sebuah fenomena terakhir, laporan paling kini menyebutkan kalau telah lahir manusia yang disebut sebagai Crystal Children, yaitu mereka yang terlahir dengan warna aura bening dengan kesadaran yang lebih baru lagi. Kemunculan mereka juga tidak bisa ditahan dan terus saja terlahir hingga menguasai seluruh muka bumi, mendominasi jumlah manusia, dan menjadi generasi penerus bagi umat manusia.

Mungkin ada benarnya bagi yang mengatakan kalau fenomena Indigo hanyalah sesuatu yang terlalu di besar-besarkan, jika seorang anak di indikasikan sebagai seorang Indigo, lalu kenapa? Hanya sebatas itukah?, “apa yang bisa mereka lakukan?” mungkin itulah yang lebih penting, apa yang bisa mereka lakukan untuk kesejahteraan lingkungan mereka, apa yang mereka sumbangkan dari “ilmu langit” mereka yang dibumikan, bukan hanya sekedar “Indigo” dan selesai. Para anak yang terlahir adalah generasi penerus dari keberadaan manusia di atas muka bumi ini, meneruskan peradaban hingga batas waktu yang telah ditentukan, sampai mereka pada akhirnya digantikan oleh generasi yang lebih baru lagi. Namun, Semua keadaan ini bagi penulis tetaplah sebuah tanda yang nyata dari kebesaran yang Maha Kuasa.

Sumber : http://www.odllirama.com/2008/08/80-anak-anak-yang-terlahir-sekarang.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Gadis Tuna Wicara Diperkosa Penarik Becak di Tanjung Balai

Tanjungbalai (SIB)
Gadis tuna wicara Bunga,16 (nama asalan) diduga korban pemerkosaan yang dilakukan seorang penarik becak bermotor (Betor), Jumat (30/4) sekira pukul 11.00 WIB di rumah kosong Jalan Gaharu Kota Tanjungbalai.
Siswi Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) ini diduga diperkosa N (45) warga Jalan Jenderal Sudirman Km 2,5 Kota Tanjungbalai saat pulang dari sekolahnya. Peristiwa itu di ketahui keluarga korban menjelang sore dan membuat laporan resmi ke Mapolres Tanjungbalai.
Keterangan yang diperoleh wartawan menyebutkan, siang itu, korban keluar dari sekolah dan hendak pulang ke rumahnya. Tiba di TKP persisnya di persimpangan Jalan FL Tobing dan Jalan Gaharu, korban ditegur tersangka N layaknya menawarkan jasa. Karena diam tersangka penasaran dan menghentikan becaknya lalu memegang tangan korban.
Saat tangannya dipegang, korban berontak dan marah tetapi memakai bahasa isyarat, mengetahui korban tuna wicara lalu tersangka menarik paksa tangan korban dan menaikkan korban ke Betornya serta membawa ke rumah kosong yang tak jauh dari TKP.
Di rumah kosong, tersangka langsung menyetubuhinya sementara korban berontak dan melakukan perlawanan dan berhasil mencakar badan korban. Walaupun korban melawan dan mencakar badan korban dengan kuku tangannya tetapi tersangka tidak perduli. Setelah puas melampiaskan nafsu bejadnya tersangka meninggalkan korban.
Aksi bejad ini terbongkar saat korban hendak pulang menuju rumahnya. Korban melihat tersangka lewat dengan Betornya menuju Jalan Alteri. Saat bersamaan seorang wanita bernama Nurlela yang sehari-harinya berjualan di kantin SDLB melintas di daerah itu. “Korban langsung memeluk wanita itu, dengan bahasa isyarat korban mengatakan bahwa pria penarik becak itu telah memperkosanya,” ujar Kapolres Tanjungbalai melalui Pahumas AKP L Sirait, Sabtu (1/5) di ruang kerjanya.
Didampingi guru SDLB bernama Nino, korban membuat pengaduan resmi ke Mapolres Tanjungbalai. Lalu anggota Satreskrim Bripka D Habeahan dan Briptu R Silalahi melakukan olah TKP dan berhasil menangkap tersangka N dan membawanya ke Mapolres Tanjungbalai untuk pemeriksaan lanjut.” Kasusnya masih dalam pemeriksaan dan masih menunggu hasil visum” ujar Pahumas.
Tersangka, kata Pahumas dijerat pasal 81 UU nomor nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, subs pasal 285 KUHPidana. (S19/n)

Sumber : http://hariansib.com/?p=121219

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kelebihan Istimewa Anak Indigo

Anak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan lebih. Sayangnya seringkali dipandang aneh. Kini telah banyak anak indigo yang lahir di seluruh dunia, temasuk Indonesia. Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 700-an anak. Inilah cerita-cerita unik tentang kelebihan mereka.

Pola pikir anak biasanya akan mengikuti orang dewasa di sekitarnya. Tetapi tidaklah demikian dengan anak indigo. Justru anaklah yang mengubah dan membentuk pola pikir orang di sekitarnya. Sebab, meski masih anak-anak tetapi jiwa mereka umumnya lebih dewasa hingga bisa dibilang lebih matang dibandig usianya.

Kebanyakan anak indigo yang lahir setelah tahun 1990 menurut Dr. H. Tubagus Erwin Kusuma, SpKJ, memiliki tingkat spiritual tinggi. Hal itu ditunjukkan melalui cakra berwarna nila ketika di foto aura. Menurut ahli jiwa anak dari Klinik ProVclinic itu, di Jakarta saat ini tercatat ada 70 anak indigo. Namun jumlah yang sebenarnya diperkirakan bisa mencapai 700-an.

Menurut Erwin, anak indigo tidak sekadar memiliki kelebihan, tapi juga mempunyai beberapa tipe, yakni humanis, konseptual, artis, dan interdimensionalis. Anak tipe humanis memiliki perasaan yang peka terhadap lingkungan sosial. Sedangkan tipe konseptual selalu berpikir sesuai dengan apa yang dianggapnya benar. Ada pula yang sangat menyukai seni dan hasil karya mereka seperti seorang profesional. Yang seperti ini tergolong tipe artis.

Sedangkan tipe Interdimensionalis adalah yang dapat berinteraksi dengan makhluk lain seperti makhluk halus. Selain itu mereka dapat menembus lorong waktu, sehingga bisa melihat apa yang terjadi di masa lalu, kini, dan akan datang. Anak indigo terkadang tidak hanya memiliki satu tipe, tapi bisa dua atau lebih. Tipe-tipe ini terlihat pada kemampuan Shantiq, Rheinanda dan Haikal.

Dr. Erwin juga memprediksi, bahwa sebentar lagi akan muncul anak kristal yang memiliki aura putih dan kemampuan melebihi anak indigo. Berbeda dengan anak indigo, anak kristal memiliki tingkat kematangan spiritual yang lebih tinggi. Mereka memiliki sifat yang lebih tenang, tidak frontal seperti anak indigo. Saat ini generasi anak kristal sudah mulai lahir ke dunia, namun tidak diketahui di belahan bumi mana.

Shantiq I Rival, Mampu Membaca Isi Hati

Yani Rivai (47) terkejut ketika mengetahui putri sulungnya yang disapa Chacha ternyata tergolong anak indigo. “Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan dia. Sejak lahir hingga berumur empat tahun, sulit sekali saya mengendalikan kelakuannya,” ujar Yani.

Setelah Chacha lahir, ada beberapa kejadian yang sulit diterima akal sehat. “Pernah saya ketiduran ketika menyusuinya. Setelah terbangun saya kaget sebab dia tidak ada di pangkuan saya. Saya pikir jatuh ke lantai. Saya cari-cari di sekitar, tetapi tidak ada. Ternyata dia tengah tidur pulas di atas ranjangnya yang terletak di sebelah tempat tidur,” cerita Yani.

Meski heran namun Yani mencoba tak berpikir macam-macam. “Tak mungkin anak sekecil itu bisa bergerak mencari tempat tidurnya sendiri,” pikirnya.

Namun ada yang berbeda dari putrinya. Setelah tumbuh laiknya anak-anak lain, cara berpiir dan berbicaranya sangat dewasa sampai sering menasihati orang yang lebih tua. Parahnya lagi, Chacha tidak mau dipaksa sekolah atau belajar. Terbukti ketika ia dimasukkan ke playgroup saat berumur dua taun. “Kalau dipaksa akan marah. Kalau emosinya sedang naik, dia akan berteriak atau menangis kencang, lalu badannya panas,” ungkapnya. Merasa ada yang aneh dengan sang putri, Yani memeriksanya ke psikiater.

Setelah menjalani serangkaian tes dan foto aura, terlihat Chacha memiliki aura dan cakra berwarna nila. Itu berarti ia tergolong anak indigo yang memiliki kelebihan-kelebihan khusus. “Oleh dokter saya diberi petunjuk menghadapi anak indigo. Intinya hindari konflik dengan dia. Bila sedang marah segeralah peluk untuk menenangkannya,” ungkap istri Rizal Rivai ini.

Yani pun semakin tahu kelebihan yang dimiliki putrinya. “Dia tahu apakah seseorang berbohong atau tidak. Saya pernah pura-pura sudah tak marah lagi, eh dia langsung tahu kalau saya masih kesal. Bahkan kalau saya ada masalah pun, dia pasti tahu dan menghampiri saya seperti layaknya orang dewasa,”jelas Yani. Namun yang paling menonjol dari sang putri adalah rasa kemanusiannya yang tinggi.

Dalam melihat seseorang, putrinya tak memerhatikan penampilan luar tapi lebih pada hatinya. Pernah suatu hari, cerita Yani, Chacha rela disuruh-suruh teman-temannya, meskipun sebenarnya ia tidak menyukainya. “Saya tanya kok mau disuruh-suruh?Dia bilang , enggak apa-apa Mi. Sebenarnya Chacha kasihan sama anak itu. Dia memiliki banyak masalah dalam hidupnya, makanya Chacha ingin bikin dia senang,” jelasnya.

Menebak Kejadian Akan Datang

Melihat dan mendengar apa yang dikatakan dan dilakukan putri sulungnya, Yani semakin yakin Chacha termasuk seorang anak yang diutus Allah untuk menyebarkan kebaikan bagi sekelilingnya. “Menurut Dr. Erwin, Chacha termasuk anak indigo humanis, karena dia sangat peka terhadap keadaan sosialnya.”

Selain bisa mengetahui kepribadian seseorang hanya dengan melihat wajahnya saja, Chacha juga bisa mengetahui apakah orang itu berbohong atau berniat jahat. Tak hanya itu, Chacha juga bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang. Pernah suatu hari, salah seorang tantenya yang telah menikah datang menemuinya dan iseng tanya kapan akan hamil. Tiba-tiba Chacha menjawab peuh keyakinan. “Tante, bulan Januari nanti hamil. Tapi tante jangan senang dulu karena tak lama setelah itu tante akan keguguran,” katanya.

Awalnya tak ada yang mempercayai ucapan dari anak sekecil Chacha. Namun ternyata apa yang dikatakannya benar-benar terjadi. “Tantenya benar-benar hamil, namun akhirnya keguguran,” ucap Yani. Karena kemampuannya, tak jarang keluarganya menanyakan berbagai hal.

Untuk merangkai senua yang terlintas di benaknya diperlukan energi yang besar. Karena itu kalau capek dan drop biasanya badannya langsung panas. Kalau sudah begitu, pelukan hangat sang bunda yang paling dibutuhkan Chacha untuk kembali mengumpulkan energinya yang terkuras. “Saya langsung kasih obat penurun panas lalu saya peluk, sambil kami berdoa bersama-sama,” ungkap wanita yang ternyata putra bungsunya, Vey juga termasuk anak indigo. “Namun warnanya hijau, artinya meneduhkan. Karena itu ia lebih tenangdan cenderung tak ingin mengecewakan orang-orang sekitarnya. Namun Vey tidak memiliki kemampuan istimewa seperti yang dimiliki sang kakak.

Pernah suatu hari, dengan wajah berlinang air mata dan tangan menutup telinganya Chacha berlari ke arahnya. “Mi, serem sekali, aku takut,” ungkapnya sambil menangis. Yani pun tak dapat berbuat apa-apa karena ia tahu saat itu sang putri tengah menangkap suatu energi negatif yang akan menimpa seseorang. “Saya hanya memeluknya dan menyuruh dia shalat agar suara-suara itu hilang”.

“Ya Allah tolong hilangkan suara-suara seram itu. Suara orang berteriak-teriak minta tolong dan suara ledakan, aku gak tahan lagi ya Allah,” ucap sang bunda yang berada di balik pintu. “Malam itu Chacha nggak bisa tidur. Dia terus menangis sambil menutup telinganya. Menjelang subuh barulah dia bisa memejamkan mata karena kecapaian.”

Pada keesokan harinya (awal Januari 2007), Yani sangat kaget ketika semua stasiun TV menayangkan hilangnya pesawat Adam Air. “Saya baru menyadari, mungkin musibah inilah yang ditangkap Chacha. Ia bisa mendengar teriakan para penumpang dan dahsyatnya ledakan yang menghancurkan pesawat itu,” ungkap Yani.


Rheinanda Kaniaswari, Berinteraksi dengan Dunia Lain

Rheinanda Kaniaswari (10) juga memiliki kemampuan serupa. Gadis cilik yang akrab disapa Nanda ini termasuk anak indigo interdimensionalis lantaran kemampuannya berinteraksi denagn makhluk gaib. “Nanda punya teman yang namanya Ciak, dia baik dan suka main boneka sama Nanda,” ucapnya polos.

Setelah diselidiki, Ciak ternyata makhluk halus seusia Nanda dan mereka menjalin persahabatan. “Awalnya saya pikir Nanda dan mereka menjalin persahabatan. “Awalnya saya pikir Nanda berhalusinasi, ” ungkap Istha Sarawati, sang bunda. Saat Kakaknya bertanya apakah ia tidak takut melihat mahluk halus yang ada di sekitarnya, dengan tegas Nanda menjawab tidak. ” Mereka baik-baik kok, tidak suka mengganggu. Malah lebih seram setan yang ada di sinetron dan film,” ujarnya polos.

Kemampuan Nanda melihat dan berinteraksi dengan mahluk halus sering membuat kakak-kakaknya merinding. ” Pernah dia bilang ‘ kalau mau main sama aku, mukanya benerin dulu sana.’ jelasnya, saya merinding,” tambah putri, seorang kakak Nanda.

Mungkin karena kelebihannya itu Nanda jarang ke sekolah. Belajar pun hampir tidak pernah. Herannya, Nanda termasuk murid yang pintar. Dia selalu mendapat ranking dua di kelasnya. Menurut Istha, kadang dalam seminggu hanya dua kali masuk sekolah, namun anehnya bisa menguasai materi meskipun belum belajar. Beruntung pihak sekolah mengerti dan memberinya perhatian lebih.

Kelebihan putrinya baru telihat jelas saat berusia tujuh tahun. Saat itu sedang marak pencalonan presiden. Kebetulan ayah Nanda pengurus sebuah partai dan kenal presiden SBY yang saat itu mencalonkan diri sebagai calon presiden.” Pakde Bambang nanti yang jadi presiden,” celoteh Nanda. Perkiraan Nanda ternyata tepat, SBY akhirnya terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.

Tak lama setelah itu Nanda mendapat frekuensi negatif berupa akan timbulnya bencana alam. “Ma, kayaknya akan ada bencana alam deh. Ade lihat air tumpah ke daratan dan korbannya banyak sekali. Tapi Ade enggak tahu itu dimana,” ujar Nanda saat itu. Meskipun agak meragukan, Istha mencatat apa pun yang dikatakan putrinya itu dalam sebuah buku kecil. “Saat dia menerima frekuensi seperti itu harus cepat-cepat dicatat. Takut lupa, karena hampir setiap akan terjadi bencana bisa dibilang Nanda mengetahuinya,” ujarnya.

Ternyata ucapan gadis kecil itu benar. Bulan Desember 2006 terjadi bencana alam Tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang di Aceh. “Ke depannya Tsunami tidak ada. Hanya saja gempa, banjir, gunung meletus masih akan terjadi,” ucap Nanda mengenai kondisi Indonesia setahun ke depan. Gadis itu lalu memegang bandul dan menggerakkannya dengan tanpa menyentuhnya sedikit pun. Rupanya ia menggerakkan menggunakan energi untuk melatih kemampuannya,” jelas sang bunda.

Dua Kali Hindarkan Ayahnya dari Maut

Setelah sering bertukar pengalaman dengan para orang tua yang juga memiliki anak indigo, Istha semakin mengerti dan memahami kelebihan yang dimiliki putri bungsunya. “Saya sangat bersyukur Allah memercayakan nanda pada kami. Kami berharap Nanda bisa membawa kebaikan bagi semua orang,” ungkapnya tulus.

Seperti saat ia menggunakan kemampuannya untuk mengingatkan sang ayah dari sergapan maut. “Saya menganggap ini adalah suatu anugerah dari Allah. Saat pesawat Mandala jatuh, seharusnya papanya juga ada dalam pesawat itu,” kenang Istha.

Rupanya ketika hendak pergi Nanda menghalangi sang papa sambil menangis. “Papa jangan pergi, kalau papa pergi nanti Nanda enggak punya papa lagi,” ungkap putri Agus Hermanto itu. Karena putrinya menangis histeris, Agus mengalah dan menyerahkan tugas itu pada temannya yang kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut. “Kami semua langsung sujud syukur karena suami selamat dari maut. Namun kami juga ikut bersedih rekannya menjadi korban. Kami tak mengira akan begitu akhirnya,” ungkap Istha.

Kejadian serupa terulang lagi saat Nanda memperingatkan sang ayah agar jangan pergi ke Yogyakarta. “Ma, Nanda ngeliat ada gempa besar dan banyak rumah yang rusak. Bilang sama Papa jangan ke daerah Jawa ya,” ungkap Istha menirukan ucapan putrinya. Agus pun memutuskan tak pergi meski harus rapat di Yogyakarta. “Benar saja ketika gempa terjadi, hotel yang sudah di-booking suami ternyata miring dan banyak yang runtuh,” ucap Istha.

“Bagi kami Nanda sudah seperti pelindung keluarga. Dialah yang selalu mengingatkan kalau ada yang tak benar atau berniat jahat pada kami,” ujarnya. Tak jarang kemampuan tersebut dipandang aneh oleh sebagian orang. Apalagi bila ia bersemedi di depan kelasnya. “Awalnya teman-temannya merasa aneh, sekarang sih sudah terbiasa. Jadi kalau ia lagi semedi, teman-temannya lewat aja,” tutur sang bunda.


Achmad Haikal Kurniawan, Menonjol Kemampuan Spiritualnya

Seperti layaknya ibu lain yang memiliki anak indigo, Chichi Sukardjo awalnya tidak mengetahui putra sulungnya, Achmad Haikal Kurniawan (13) memiliki keistimewaan. Padahal tanda-tanda tersebut sudah dirasakannya sejak mengandung. “Awalnya sebagai muslim saya merasa berdosa karena belum pernah khatam Al-Qur’an. Nah pada saat hamil Haikal saya punya keinginan kuat mengaji dan berhasil khatam,” ujar Chichi.

Pertanda tersebut berlanjut menjelang kelahirannya. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Chichi dan suami mendengar adzan berkumandang. “Padahal saat itu masih bulan Ramadhan, belum saatnya malam takbiran,” kenangnya. Setelah di USG, berdasarkan keterangan dokter rumah sakit, tangan bayinya tampak menyerupai orang yang sedang adzan.

Begitupun saat berusia 11 bulan, Chichi mendapati perilaku aneh Haikal.”Ketika itu kami sedang berada di museum di Boston. Saat sedang asyik melihat benda sejarah, tiba-tiba saja Haikal menghilang. Setelah dicari, ternyata dia merangkak menuju lorong sepi melihat kaligrafi Allah dan Muhammad, serta pedang Umar bin Khatab sambil tersenyum. Saat itu ia terlihat excited sekali, bahkan seperti sedang ngobrol sendiri,” terangnya. Hingga kini hal tersebut tetap terbawa, Haikal selalu bersemangat mengunjungi museum dan senang dengan hal-hal keagamaan.

Kepastian putranya tergolong indigo diketahui Chichi setelah Haikal diperiksa dokter sewaktu berusia 4 tahun. Masa berat dalam hidup Chichi dimulai saat putranya menginjak usia sekolah.

Seperti kebanyakan anak indigo, Haikal sangat membenci kegiatan belajar dalam kelas. “Saat TK B ia bilang, Bunda ngapain sekolah. Di sekolah cuma nyanyi-nyanyi aja,” ujarnya. Saat anak lain menggambar gunung atau bunga, putranya menggambar kapal pesiar lengkap dengan gym, perpustakaan dan berbagai fasilitas lain. “Padahal dia nggak pernah naik kapal pesiar. Paling naik kapal feri.”

Begitupun ketika masuk sekolah dasar. Saat anak lain belajar di kelas, Haikal lebih senang pergi ke masjid atau perpustakaan. Sampai-sampai gurunya memerintahkan petugas menutup pintu perpustakaan untuknya. Hal itu membuatnya marah. Sebab yang paling menarik baginya adalah membaca buku, daripada belajar itu-itu saja di dalam kelas. Makanya tak heran, dalam satu semester ia bisa tidak masuk sekolah 26 hari. “Orang tua lain heran dengan kondisi begitu dia bisa mendapat nilai lumayan.”

Karena ketaksukaannya belajar dalam kelas, Haikal kerap membuat ulah. Dari menolak ujian karena menganggapnya percuma sebab katanya sudah pernah dikerjakan, langsung meninggalkan kelas dan gurunya dalam keadaan marah, dan tak sungkan mengkritik guru yang dianggapnya bukan pendidik lantaran tak memahami kondisi murid.

Meski demikian Chichi bersyukur bakat putranya sangat positif. Ia memiliki sikap dan pendirian yang teguh pada hal-hal yang dianggapnya benar. Haikal juga taat beribadah. Pada usia SD pernah seorang guru memanggil Chichi sambil menangis. Ia mengatakan melihat anaknya itu sedang berzikir di dalam masjid sambil menangis. “Saya tidak pernah melihat anak SD seperti anak ibu,” ujar Chichi menirukan perkataan guru.

Selain itu di tengah jam pelajaran, Haikal tidak akan sungkan meminta izin kepada guru untuk shalat dhuha. “Alhamdulillah dia sangat dekat dengan Allah,” syukur Chichi. Bahkan sejak usia SD, Haikal tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu.”

Menurut psikiater yang menanganinya, bocah kelas dua SMP ini memiliki aura dan kekuatan luar biasa. Berdasarkan keterangan psikiater, Haikal adalah indigo yang sakit. “Makanya ia butuh penanganan dan pengarahan yang tepat,” ujar Chichi. Hal itu diakuinya lantaran perceraiannya dari ayahnya beberapa tahun silam, ikut mengguncang mental putranya. Karena itu kata Chichi, Haikal membutuhkan perhatian lebih.

Haikal juga bisa melihat masa depan. “Seminggu sebelum kejadian tergelincirnya pesawat Lion Air di Solo, dia pernah bercerita bakal ada peristiwa besar menyedihkan. Ternyata benar karena ada musibah pesawat itu,” jelas Chichi. Sepengetahuannya pula, 6 bulan sebelum tsunami Aceh, putranya sering terbangun tengah malam dan mengatakan kalau ia melihat banyak jatuh korban akibat banjir.

Berat mengasuh anak indigo?Bagi Chichi, yang paling berat adalah karena ayahnya tak mengakui bila putranya indigo. Hingga kini, mantan suaminya masih menganggap ia salah mendidik Haikal.

Namun ia bersyukur, di tengah kondisi seperti itu, putranya ternyata bisa bersikap bijak. Pernah Haikal mengirim surat kepada ayahnya yang isi suratnya layaknya orang dewasa. “Ayah, kenapa ayah membenci Bunda? Kenapa ayah bilang Bunda tidak bisa mendidik anak? Bunda memang galak dan keras, Yah. Tapi bunda adalah sebaik-baik perempuan yang bisa mendidik kami. Ayah jangan lupa itu,” begitu isi sebagian surat Haikal. Chichi mengaku terharu dengan pengertian putranya.

Bagi Chichi, kehadiran Haikal adalah amanah. Ia yakin Tuhan memiliki maksud tertentu, entah itu untuk kebaikan dirinya atau untuk kebaikan orang banyak. Apalagi layaknya anak indigo, Haikal bisa membaca sifat orang. “Dia bisa tahu apa orang itu baik atau tidak,” ujar Chichi.

Sumber: Selvy Widuhung, Kartini

Sumber : http://www.pro-vclinic.web.id/articles/kelebihan-istimewa-anak-indigo.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Program Akselerasi, Perlukah?

Orang tua mana yang tak bangga anaknya dipuji sebagai anak pintar? Di sekolah, saat sang guru kembali memuji, Selamat, anak ibu dan bapak cerdas dan berprestasi! WOW…hati serasa melambung

Kepandaian dimiliki semua anak, antara lain dapat kita ukur dari prestasi belajar anak disekolah. Alat ukur lain yang sering dimanfaatkan adalah tes IQ.

Namun apakah kecerdasan semata-mata diukur dengan angka-angka itu? Sedang pada rapor sekolah anak disebut pintar bila mempunyai tinggi, sedang atau kurang pada anak yang mempunyai nilai rendah.

Menurut Dave Meier, penulis The Accelerated Learning Handbook, Cerdas bukan semata-mata urusan kognitif. Tapi juga emosi dan sikap sosial anak.

Timbul Kesalahpahaman tentang makna pandai/cerdas/pintar/atau apapun namanya, seorang ibu misalnya bila mengetahui anaknya punya IQ tinggi, bernilai bagus, lahap membaca buku, buru-buru memasukkan anak pada program akselerasi. Ia bahkan melobi sekolah agar anaknya bisa loncat kelas. Padahal secara emosi anak yang masih kelas 1 SD itu masih senang bermain-main dengan teman sebaya dan masih merengek pada sang ibu.

Namun, penerapan program akselerasi berdasarkan undang-undang, jadi diperbolehkan, yaitu undang-undang nomor 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional pasal 8 ayat 2

Melalui program akselerasi, anak akan mendapat keuntungan, karena memperoleh bantuan pengajaran seusai dengan bakat dan intelektualnya. Dengan program percepatan diharapkan siswa berbakat tidak bosan dikelas, sehingga tidak menganggu, mengacau kelas, dan anak dapat maju terus dengan cepat.

Namun dipihak lain, tak sedikit yang berpendapat bahwa kelas akselerasi justru membuat siswa tidak bisa mengembangkan kemampuan sosialisasi mereka. Dalam pandangan mereka, anak-anak berbakat itu tak beda dengan anak pada umumnya yang membutuhkan lingkungan bergaul yang sepadan dengan emosi anak. Anak-anak itu juga membutuhkan penghargaan, perwujudan diri, dan pendidikan nilai kemanusiaan

Pendeknya, dibutuhkan pemikiran matang sebelum memasukkan anak pada program akselerasi. Dan menurut Meier, Dalam pendidikan anak, Anda tak bisa memisahkan pikiran, pengetahuan, tubuh, emosi, indera dan lingkungannya.

Dirangkum dari majalah anakku

Sumber : http://cendana.web.id/forum/index.php?topic=304.0

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Apakah Anak Anda Tergolong Anak-anak Indigo ?

Sebelum kita membahas tentang anak-anak indigo, alangkah baiknya kita mengetahui dulu mengenai warna indigo yang dimaksud pada anak-anak indigo. Warna indigo adalah warna yang dominan dari warna aura (warna biru-merah). Warna Indigo menunjukkan cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari enerji psychic, yang terbuka pada anak-anak Indigo. Anak-anak Indigo memahami perbedaan yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang orang lain tidak mampu. Kebanyakan perilaku anak Indigo dapat dipahami dari aspek ini.

Definisi anak indigo adalah anak yang menunjukkan seperangkat atribut psikologis baru dan luar biasa, serta menunjukkan sebuah pola perilaku yang pada umumnya tidak didokumentasikan sebelumnya. Pola ini memiliki faktor-faktor unik yang umum, yang mengisyaratkan agar orang-orang yang berinteraksi dengan mereka (para orangtua, khususnya) mengubah perlakuan dan pengasuhan terhadap mereka guna mencapai keseimbangan. Mengabaikan pola-pola baru ini akan kemungkinan besar berarti menciptakan ketidakseimbangan dan frustasi dalam benak dari kehidupan baru yang berharga ini.

Banyak anak-anak sekarang yang terkategorikan sebagai Anak Indigo, juga disebut “Children of the Sun” oleh para ahli dari Amerika. Atau disebut juga sebagai “Millennium Children”. Para ahli mengatakan lebih dari 90% (di lain buku menyebutkan lebih dari 80 %) dari anak-anak di bawah 12 tahun, dan beberapa mengatakan walau dalam persentase yang tidak besar terdapat Indigo dewasa. Anak-anak ini teridentifikasi melalui adanya karakteristik yang unik. Mereka cerdas dan kreatif, namun bersifat sulit diatur pada kekuasaan dan sistem secara umum. Mereka sering disalahdiagnosa sebagai ADD (Attention Deficit Disorder = atau Gangguan Kekurangan Perhatian) atau ADHD (Attention Deficit Hyperaktive Disorder = Gangguan Hiperaktif Kekurangan Perhatian) yang membutuhkan terapi untuk mengatasi sifatnya.

Secara fisik dan emosional mereka sangat sensitif. Mereka juga sangat perhatian dan empati terhadap orang lain, juga beberapa menjadi terlihat tidak berperasaan. Anak Indigo dapat mudah marah dan kasar, mereka membutuhkan keyakinan bahwa dirinya diterima dan memerlukan konseling. Indigo juga mempunyai rasa depresi di usia muda jika mereka merasa tidak mengapa mereka dilahirkan atau merasa tidak mempu berbuat apa-apa untuk memperbaiki dunia.

Bagi Wikimuers yang ingin mengetahui apakah anaknya atau diri sendiri termasuk seorang Indigo, bisa mencocokkan karakteristik anak Indigo dan Indigo dewasa berikut ini. Selain itu biasanya seorang anak Indigo tergolong anak yang istimewa (biasanya memiliki IQ -Intelligence Quotient- lebih dari 120 dan mempunyai kecenderungan mempunyai kemampuan supranatural) namun seringkali mempunyai permasalahan dengan sistem belajar di sekolah pada umumnya.

Karakteristik Anak Indigo :

1. Mempunyai kesadaran diri yg tinggi, terhubung dengan sumber (Tuhan).
2. Mengerti jika dirinya layak untuk berada di dunia.
3. Mempunyai pengertian yang jelas akan dirinya.
4. Tidak nyaman dengan disiplin dan cara yang otoriter tanpa alasan yang jelas.
5. Menolak mengikuti aturan atau petunjuk.
6. Tidak sabaran dan tidak suka bila harus menunggu.
7. Frustasi dengan sistem yang sifatnya ritual dan tidak kreatif.
8. Mereka punya cara yg lebih baik dlm menyelesaikan masalah.
9. Sebagian besar adalah orang yg menimbulkan rasa tidak nyaman.
10. Tidak bisa menerima hukuman yang tanpa alasan, selalu ingin alasan yang jelas.
11. Mudah bosan dengan tugas yg diberikan.
12. Kreatif.
13. Mudah teralihkan perhatiannya, bisa mengerjakan banyak hal bersamaan.
14. Menunjukan intuisi yang kuat.
15. Punya empati yang kuat terhadap sesama, atau tidak punya empati sama sekali.
16. Sangat berbakat dan rata-rata sangat pintar.
17. Saat kecil sering diidentifikasi menderita ADD / ADHD (Atenttion Defisit Disorder = susah konsentrasi) / ADHD (Attention Defisit and Hyperactive Disorder = hiperaktif).
18. Mempunyai visi dan cita-cita yang kuat.
19. Pandangan mata mereka terlihat, bijaksana, mendalam dan tua.
20. Mempunyai kesadaran spiritual atau mempunyai kemampuan psikis.
21. Mengekspresikan kemarahan dan mempunyai masalah dengan menahan amarah.
22. Membutuhkan dukungan untuk menemukan diri mereka.
23. Berada di dunia untuk merubah dunia, untuk membantu kita hidup dalam keharmonisan dan damai antara yg satu dengan yg lain dan meningkatkan getaran planet.

Karakteristik Indigo Dewasa
1. Mereka pintar walaupun tidak selalu berada di tingkatan paling atas.
2. Kreatif dan sangat menikmati menciptakan sesuatu.
3. Selalu ingin tahu kenapa, khususnya jika mereka disuruh melakukan sesuatu.
4. Muak akan pekerjaan yang banyak dan berulang-ulang di sekolah.
5. Pemberontak di sekolah, menolak mengerjakan tugas dll. atau ingin memberontak tapi tidak berani karena ada tekanan dari orang tua.
6. Punya masalah dengan keberadaan, seperti tidak diterima, atau terasing. Biasanya menimbulkan perasaan ingin bunuh diri, tapi tidak benar-benar melakukannnya.
7. Punya masalaha dengan amarah.
8. Tidak nyaman dengan politik karena merasa suara mereka tidak dihitung, dan tidak peduli dengan hasil yang keluar.
9. Frustasi dengan budaya Amerika tradisional.
10. Tidak terima bila hak-hak mereka diambil atau diinjak-injak.
11. Punya hasrat yang membara untuk merubah dunia, tapi kesulitan menemukan jalurnya.
12. Mempunyai ketertarikan akan hal spiritual dan kemampuan psikis saat usia muda.
13. Punya beberapa “Role model” Indigo.
14. Punya intuisi yang kuat.
15. Punya sifat atau jalan pikir yang tidak biasa, sulit fokus pada tugas, atau meloncat-loncat di tengah pembicaraan.
16. Pernah mengalami pengalaman spiritual, psikis dll.
17. Sensitif terhadap yg berhubungan dgn listrik.
18. Mempunyai kesadaran akan dimensi lain.
19. Secara seksual sangat ekspresif atau malah menolak seksualitas aga bisa mencapai kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
20. Mencari arti hidup mereka dan mengerti tentang dunia, mereka bisa mencarinya dengan melalui agama, buku dll.
21. Waktu mereka merasa diri mereka seimbang, mereka akan menjadi kuat, sehat, dan individu yang bahagia.

Bagi Wikimuer yang ingin memperoleh penjelasan lebih jauh mengenai anak-anak Indigo dan permasalahan di seputar keindigoan seseorang bisa mendapatkan di (sekaligus juga merupakan referensi tulisan saya ini) :

– Buku The Indigo Children, Anak-anak Baru Itu Telah Datang oleh Lee Carrol & Ja Tober

– Buku 17 Emosi Negatif Anak Indigo, Terapi Mental da Perilaku oleh Wayne Dosick, Ph.D & Ellen Kaufman Dosick, MSW

– Link ke situs-situs berikut :

http://www.indigoindonesia.com/

www.starchild.co.za/what.html

– Khusus pembahasan mengenai cakra dapat dilihat di link :

http://www.uduryna.com/Chakras-Diagnostic-Guide.pdf

http://www.ascendpress.org/PDF-files/Chakras5.pdf

sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=10142&post=1

Posted in Uncategorized | Leave a comment